Senin, 19 September 2011

Sepucuk Surat Untuk Ayah


Kepada Ayahandaku Tercinta
Ayah, Maafkan aku …
Maafkan aku jika ternyata aku baru menyadari begitu beratnya menjadi seorang suami. Menjadi pencari nafkah untuk seluruh keluarga anak dan istri, memeras keringat, pikiran dan hati untuk keluarga.
Ayah, Maafkan aku …
Maafkan aku jika ternyata aku baru menyadari begitu besarnya pengorbananmu. Aku pikir engkau tidak sayang padaku, tetapi aku salah, ternyata disaat kami aku terlelap engkau baru pulang dari pekerjaanmu, dan disaat aku belum bangun engkau sudah berangkat mencari nafkah.
Ayah, Maafkan aku …
Aku lebih banyak bermain dan nonton tv daripada belajar.
Ayah, Maafkan aku …
Aku selalu berlari keluar rumah jika suaramu menggelegar
Dulu aku tidak pernah memahami bahwa dibalik suaramu yang menggelegar, dibalik sikapmu yang keras, tersimpan sebuah keinginan agar aku bisa lebih baik darimu.
Dulu aku tidak paham bahwa disaat aku membutuhkan uang kau selalu bilang besok, aku hanya berfikir engkau pelit dan tidak sayang kepadaku, tetapi kini aku sadar bahwa engkau bersusah payah meminjam kesana kemari untuk bisa memberikan kebutuhanku tersebut.
Kini setelah semuanya aku rasakan, setelah aku memiliki istri dan anak, aku benar benar merasakan apa yang kau rasakan.
Aku baru menyadari begitu besarnya pengorbananmu untuk kami, begitu sayangnya engkau kepada kami.
Ayah, diusiamu yang sudah semakin tua. Apakah aku bisa membuatmu bahagia dengan seonggok emas ?
Ternyata aku juga salah, engkau tidak bahagia dengan seonggok emas. Aku baru menyadari bahwa engkau lebih bahagia jika aku ada didekatmu saat usiamu tua dan engkau akan bahagia jika melihatku dalam keadaan sehat.
Ya Robb …
Hadiah kan lah Surga Untuk ayahku, berikanlah ayahku tempat yang nyaman dan berilah ayahku kebahagiaan

By : Ananda Adhi

0 komentar:

Posting Komentar