Bondan Ananda Pasha Adhitya Al Farobi

Metode Pembelajaran System Internet Online

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 13 September 2014

MAKALAH : STRATEGI PEMASARAN DAN ANALISIS PESAING USAHA

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur atas kehadirat  Allah.SWT, atas berkat rahmat serta hidayah-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah KEWIRAUSAHAAN ini.
Terima kasih saya sampaikan kepada Bapak ASIR yang selama ini telah membimbing Kami. Dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung atas penyelesaian makalah ini, serta kepada semua pihak yang telah terlibat didalamnya.
Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Saya menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, maka dari itu penulis mohon kritik dan saran demi kemajuan serta kesempurnaan untuk periode selanjutnya.
Mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan dalam makalah ini semoga kita selalu berada dijalan yang benar, amin.
Makassar, 23 Desember 2013
Penulis
BAB I
STRATEGI PEMASARAN
Strategi pemasaran adalah himpunan asas yang secara tepat, konsisten dan layak dilaksanakan oleh perusahaan guna mencapai sasaran pasar yang dituju (target market) dalam jangka panjang dan tujuan perusahan jangka panjang (objectives), dalam situasi persaingan tertentu.
Dalam strategi pemasaran ini terdapat strategi acuan/bauran pemasaran (marketing mix), yang menetapkan komposisi terbaik dari keempat variable pemasaran, untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju sekaligus mencapai tujuan dan sasaran perusahaan.
Keempat variable strategi acuan/baur pemasaran tersebut adalah:
A.    Strategi produk
B.     Strategi harga
C.     Strategi penyaluran/distribusi
D.    Strategi promosi
A.    Strategi Produk
Setiap perusahaan di dalam mempertahankan dan meningkatkan penjualan dan share pasarnya, perlu mengadakan usaha penyempurnaan dan perubahan produk yang dihasilkan ke arah yang lebih baik, sehingga dapat memberikan daya guna dan daya pemuas serta daya tarik yang lebih besar. Strateginya adalah menetapkan cara dan penyediaan produk yang tepat bagi pasar yang dituju, sehingga dapat memuaskan para konsumennya dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang, melalui peningkatan penjualan dan peningkatan share pasar. Dalam strategi marketing mix, strategi produk merupakan unsure yang paling penting karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran lain. Strategi produk yang dapat dilakukan mencakup keputusan tentang acuan/bauran produk (Product Mix), merk dagang (Brand), cara pembungkusan atau kemasan produk (Product Packaging), tigkat mutu/kualitas dari produk dan pelayanan (services) yang diberikan. Tujuan utama strategi produk adalah untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dengan meningkatkan kemampuan bersaing atau mengatasi persaingan. 
Pada hakikatnya, seseorang membeli produk bukan karena fisik produk itu semata-mata tapi karena manfaat yang ditimbulkan dari produk yang dibelinya. Pada dasarnya, produk yang dibeli konsumen itu dapat dibedakan atas tiga tingkatan, yaitu:
1.      Produk inti (Core Product), merupakan inti yang sesungguhnya dari produk yang ingin diperoleh oleh seorang pembeli (konsumen) dari produk tersebut.
2.      Produk formal (Formal Product), merupakan bentuk, model, kualitas/mutu, merek dan kemasan yang menyertai produk tersebut.
3.      Produk tambahan (ougemented product), merupakan tambahan produk formal dengan berbagai jasa yang menyertainya, seperti pemasangan (instalasi), pelayanan, pemeliharaan dan pengangkutan secara cuma-cuma.
B.     Strategi Harga
Harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang menghasilkan penerimaan penjualan. Dalam penentuan baik untuk harga jual atau harga beli pihak bank harus berhati-hati. Sebab, kesalahan dalam penentuan harga akan menyebabkan kerugian bagi bank. Dalam menentukan harga harus dipertimbangkan berbagai hal, misalnya tujuan penentuan harga tersebut, hal ini disebabkan dengan diketahuinya tujuan penentuan harga tersebut menjadi mudah. Sedangkan tujuan penentuan harga secara umum adalah sebagai berikut:
1) Untuk bertahan hidup.
2) Untuk memaksimalkan laba.
3) Untuk memperbesar market share.
4) Mutu produk.
5) Karena pesaing.

Factor-faktor yang mempengaruhi harga:
1) Kebutuhan dana
2) Persaingan
3) Kebijaksanaan pemerintah
4) Target laba yang diinginkan
5) Jangka waktu
6) Kualitas jaminan
7) Reputasi perusahaan
8) Produk yang kompetitif
9) Hubungan baik
C.    Strategi Penyaluran (Distribusi)
Dalam usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran perusahaan dibidang pemasaran, setiap perusahaan melakukan kegiatan penyaluran. Penyaluran merupakan kegiatan penyampaian produk ke tangan konsumen atau si pemakai pada waktu yang tepat. Yang dimaksud dengan saluran distribusi adalah lembaga-lembaga yang memasarkan produk berupa barang atau jasa dari produsen sampai ke konsumen. Bentuk pola saluran distribusi dapat dibedakan menjadi:
1) Saluran langsung: Produsen → konsumen
2) Saluran tidak langsung:
   - Produsen → Pengecer → Konsumen
   - Produsen → Pedagang besar / menengah → Pengecer → Konsumen
   - Produsen → Pedagang besar → Pedagang menengah → Pengecer → Konsumen

D.    Strategi Promosi
Promosi merupakan salah satu konsep dari Marketing Mix, promosi lebih kepada menawarkan access/channel kepada pembeli. Bagaimana pembeli/nasabah bisa mendapatkan informasi yang lebih baik, bagaimana bank mengedukasi calon nasabah, maka promosi adalah salah satu medium yang tepat! Kegiatan promosi yang dilakukan suatu perusahaan menggunakan konsep MIX PROMOTION, yang terdiri dari:
  1. Advertensi, yaitu suatu bentuk penyajian dan promosi dan gagasan, barang, atau jasa yang dibiayai oleh suatu sponsor tertentu yang bersifatmassif dan nonpersonal.
  1. Personal Selling, yaitu penyajian secara lisan dalam suatu pembicaraan dengan seseorang atau lebih calon pembeli dengan tujuan agar dapat terealisasinya penjualan.
  1. Promosi Penjualan, yaitu segala kegiatan pemasaran selain personal selling, advertising and publicity. Yang merajuk konsumen untuk membeli seperti exhibition, roadshow, and all things about selling yang tidak dilakukan secara teratur atau continue.
  1. Publicity, yaitu usaha untuk merangsang permintaan dari suatu produk secara massif seperti layanan masyarakat, berderma dan kegiatan sosial lainnya yang menyangkut nama baik perusahaan dan diliput oleh pers!
Karena sifatnya yang accessible, maka Promosi memerlukan Channel untuk mempromosikan produk suatu bank. Saat ini misalnya, dengan adanya internet,
channel begitu mudah diciptakan. Seperti bank muamalat yang menerbitkan kartu shar-e, yang bisa diakses lewat www.share.com. Secara konservatif, bank bisa menyalurkan promosinya melalui agent individu (personal channel) maupun saluran nonpersonal (nonpersonal channel).
BAB II
ANALISIS PESAING
A.    Pengertian Pesaing
Analisis pesaing merupakan suatu perbuatan menganalisa atau mengidentifikasi apa-apa saja yang dilakukan oleh pihak pesaing atau perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa yang mirip dengan produk kita.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
a)      Identifikasi pesaing
b)      Menentukan sasaran pesaing
c)      Identifikasi strategi pesaing
d)     Analisis kekuatan dan kelemahan  pesaing
e)      Identifikasi reaksi pesaing
f)       Strategi menghadapi pesaing.
B.     Identifikasi pesaing
Untuk mengetahui jumlah dan jenis pesaing serta kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki, perusahaan perlu membuat peta persaingan yan lengkap. Pambuatan peta persaingan yang dugunakan untuk melakukan analisis pesaing memerlukan langkah-langkah yang tepat. Langkah-langkah ini perlu dilakukan agar analisisi pesaing tepat sasaran dan tidak salalh arah. Langkah pertama yang perlu dilakukan perusahaan adalah dengan identifikasi seluruh pesaing yang ada. Langkah ini perlu dilakukan agar kita mengetahui secara utuh kondisi pesaing kita. Dengan demikian, memudahkan kita untuk menetapkan langkah selanjutnya.
Identifikasi pesaing meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.   Jenis produk yang ditawarkan
Kadang-kadang sebuah perusahaan tertentu memiliki produk yang beragam. Tugas perusahaan adalah mengidentifikasikan secara lengkap dan benar produk apa saja yang dimilki oleh pesaing-pesaingnya. Identifikasikan siapa pesaing utama yang terdekat serta pesaing lainya yang juga berpotensi mengancam perusahaan kita sekarang dan di masa yang akan datang.
2.   Melihat besarnya pasar yang dikuasai (Market Share) pesaing
Untuk melihat besarnya pasar yang dikuasai pesaing, dapat dilakukan melalui segmen pasar yang akan dimasuki. Dalam hal ini perusahaan harus mengestimasi besarnya pasar dan market share masing-masing pesaing. Market share yang harus diketahui adalah untuk masa sekarang dan di masa yang akan datang, baik yang dikuasai pesaing maupun secara keseluruhan.
3.   Identifikasi peluang dan ancaman
Dengan mengestimasi besarnya market share, akan kelihatan peluang yang ada serta ancaman yang mungkin timbul sekarang dan di masa yang akan datang. Setiap peluang harus dimasuki dan diusahakan untuk menciptakan peluang baru yang sebesar-besarnya. Kemungkinan ancaman atau masalah yang timbul pun harus segera diantisipasi sehingga tidak menimbulkan masalah.
4.   Identifikasi keunggulan dan kelemahan
Identifikasi kelamahan dan keunggulan berarti memetakan atau mencari tahu keunggulan dan kelemahan yang dimilki pesaing. Identifikasikan kelemahan dan keunggulan pesaing dalam berbagai bidang, misalnya dalam hal kelengkapan produk, mutu, kemasan, harga, distribusi, lokasi, serta promosi.
C.     Sasaran Pesaing
Sebagaimana dijelaskan diawal bahwa pesaing ada dua jenis, yaitu pesaing dekat dan pesaing jauh. Pesaing dekat adalah perusahaan yang memproduksi barang yang hampir sejenis, seperti bank umum, BPR, bank syariah, atau bank asing. Pesaing jauh adalah perusahaan yang memiliki produk yang mirip. Contohnya pesaing untuk bank adalahlembaga keuangan yang kegiatanya memilki kesamaan daengan bank seperti asuransi, pos giro, pegadaian, koperasi simpan pinjam, leasing, money changer, atau dana pensiun.
Setelah kita mengetahui pesaing dan market share yang dikuasai, kita perlu mengetahui sasaran dari pesaing dan siapa yang menjadi target mereka selanjutnya. Sasaran pesaing antara lain memaksimalkan laba, memperbesar market share, meningkatkan mutu produk, atau mungkin juga mematikan atau menghambat pesaing lainnya.
Jika sasaran mereka memaksimalkan laba, perusahaan perlu mengetahui laba jangka pendek atau laba jangka panjang dan apa tindakan yang akan mereka ambil. Sasaran untuk memaksimalkan laba ini dapat dilakukan melalui peningkatan kepuasan konsumen dengan berbagai cara, misalnya melalui pelayan atau harga yang relatif murah.
Jika sasarannya untuk memperbesar, maka perusahaaan perlu mengetahui apakah pertumbuhan market share yang dimiliki cukup besar. Biasanya, meningkatkan market share dapat dilakukan dengan promosi yang cukup gencar dengan diimbangi pembukaan cabang baru yang gencar pula. Sebagai contoh perusahaan 3 atau axis yang begitu gencar dalam mempromosikan produknya dengan diimbangi keunggulan dari masing-masing produk itu sehingga cepat menarik konsumen. Peningkatan merker share juga dapat dilakukan dengan cara penurunan harga mengingat mereka memiliki biaya operasional yang relatif lebih rendah. Hal yang juga perlu diselidiki adalah bahwa peningkatan market share dapat pula dilakukan dengan cara mengambil market share pesaing lainya.
Peningkatan mutu produk bertujuan untuk menggaet pelanggan milik pesaing. Peningkatan mutu produk ini dapat dilakukan dengan memberikan berbagai kelebihan, baik pelayanan atau kelebihan lainnya. Misalnya, produk plus, bunga yang kompetitif, frekuensi penarikan, jumlah jaringan, atau teknologi yang dimiliki.
D.    Identifikasi strategi pesaing
Tujuan perusahaan dalam menjalankan usaha atau bisnis adalah untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu, setiap perusahaan memiliki strategi tersendiri untuk mematikan lawannya. Semakin ketat persaingan, maka semakin canggih strategi yang dijalankan. Strategi untuk mematikan atau memperlemah lawan selalu dilakukan. Siapa yang lengah, akan terkena dampakanya. Bukan tidak mungkin setiap strategi yang dijalankan memiliki kemiripan. Oleh karena itu, perusahaan harus pandai memulai dan mengakhiri.
Perusahaan harus memantau strategi pesaingnya secara kontinyu, karena pesaing yang cerdik akan merevisi strategi mereka dari waktu ke waktu. Jelaslah, bahwa perusahaan juga harus mewaspadai perubahan-perubahan yang diinginkan pelanggan dan bagaimana para pesaing merevisi strategi mereka untuk memenuhi hasrat yang diinginkan oleh para pelanggan tersebut.
Analisa SWOT (Strenght, Weakness, Oppurtunities, Threats)          
Analisa SWOT adalah alat yang digunakan untuk mengidentifikasi isu-isu internal dan eksternal yang mempengaruhi kemampuan kita dalam memasarkan event kita.
Kekuatan dan Kelemahan
Untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu event, kita harus mencermati isu-isu dalam organisasi yang mempengaruhi kemampuan kita menjual event ke pasar dan sponsor. Yang menjadi patokan suatu event bias dijadikan kekuatan atau kelemahannya, kita perlu menggali persepsi dari si EO itu sendiri terhadap suatu event. Jika EO kita memandang event tersebut sebagai perioritas dan peluang untuk meningkatkan profil EO, maka event tersebut menjadi sebuah kekuatan. Namun jika kita memandang event tersebut sebagai pemborosan sumber daya,maka event tersebut menjadi kelemahan.
Peluang dan Ancaman
Langkah yang perlu dilakukana adalah menganalisa semua faktor di luar organisasi yang mungkin mempengarhi event kita. Analisa eksternal ini akan membantu kita mengidentifikasi peluang dan ancaman yang terkait dengan event. Segera setelah menentukan ancaman-ancaman atas event kita, kita bisa menaksir ulang situasi dan menganalisa bagaimana cara mengubah ancaman itu menjadi peluang.
Penting sekali memusatkan perhatian pada masing-masing ancaman atas sebuah event saat kita menjalankan perencanaan, untuk memastikan keberhasilan event tersebut. Pengkategorisasian suatu ancaman akan menentukan cara kita merespon ancaman untuk meminimalkan efeknya.
1. Monitor
Ancaman yang kita putuskan untuk “sekedar dimonitor” adalah jenis ancaman yang tidak atau sedikit dapat di kontrol, tetapi tidak berdampak besar pada event. Kita hanya ingin tahu apa yang akan terjadi.
2. Monitor dan Analisa
Ancaman yang kita putuskan untuk “di monitor dan di analisa” merupakan ancaman yang bisa sedikit dikontrol, tetapi kita perlu memastikan bagaimana ancaman tersebut dapat mempengaruhi event kita.
3. Strategi-strategi Kontingensi
Ancaman yang kita putuskan untuk “di respon dengan suatu startegi kontingensi”, adalah semua ancaman yang dapat kita kurangi pengaruhnya dengan perencanaan. Sebagai contoh jika cuaca buruk adalah ancaman bagi event di luar ruangan, kita bisa menetapkan bagaimana kita akan menanganinya, menunda event, pindah ke indoor, pawang hujan atau sedikit merubah konsep.
4. Analisa in-depth dan Strategi Pengembangan
Ancaman yang kita putuskan untuk “di respon dangan analisa in-depth dan strategi pengembangan” adalah semua ancaman yang memiliki kemungkinan paling besar untuk mempengaruhi event kita. faktor-faktor teknologi, pesaing dan legislatif adalah contoh-contoh ancaman yang mungkin memerlukan analisa dan strategi pengembangan lebih detil lagi
Setelah semua telah kita analisa dengan baik, barulah kita dapat menentukan langkah selanjutnya untuk menjalankan event yang telah direncanakan, dan alangkah baiknya apabila kita juga dapat melakukan analisa pesaing dan strategi pemasaran terhadap event tersebut.
E.     Analisis kekuatan dan kelemahan pesaing
Setelah kita tahu siapa saja pesaing kita, tentukan kekuatan mereka dan cari tahu kerentanan mereka. Mengapa nasabah membeli dari mereka? Apakah karena harga? nilai? pelayanan? kenyamanan? reputasi? Fokuskan terutama pada kekuatan dan kelemahan yang “dirasakan” seperti yang kita lakukan terhadap perusahaan sesungguhnya. Ini karena persepsi nasabah ternyata bisa lebih penting dari kenyataan.
Ada baiknya kita lakukan analisis kekuatan dan kelemahan dalam bentuk tabel. Tuliskan nama masing-masing pesaing. Kemudian susun kolom-kolom yang memuat semua kategori penting bagi bidang usaha kita (harga, nilai, pelayanan, lokasi, reputasi, keahlian, kenyamanan, personalia, pemasangan iklan/pemasaran, atau apa saja yang sesuai dengan jenis perusahaan). Begitu tabel siap, peringkatlah semua pesaing, dan cantumkan komentar mengapa peringkat tersebut diberikan. Bahkan bisa juga kita beri tanda merah untuk kekuatan dan biru untuk kelemahan, sehingga secara sekilas kita dapat mengetahui kedudukan setiap pesaing.
Michael Porter telah mengidentifikasi lima kekuatan, dan lima kekuatan tersebut adalah para pesaing industri, calon pendatang, substitusi, pembeli dan pemasok. Adapun lima ancaman yang ditimbulkan kekuatan tersebut adalah ancaman persaingan segmen yang ketat, ancaman pendatang baru, ancaman produk substitusi, ancaman peningkatan kemampuan/kekuatan posisi tawar pemasok.
1). Ancaman persaingan segmen yang ketat
Segmen tertentu menjadi tidak menarik jika ia telah memiliki pesaing yang banyak, kuat, atau agresif. 
2). Ancaman pendatang baru 
Daya tarik segmen berbeda-beda menurut tingginya hambatan untuk masuk dan keluarnya.
3). Ancaman produk substitusi 
Segmen tertentu menjadi tidak menarik jika terdapat substitusi produk yang aktual atau potensial. 
4). Ancaman peningkatan kekuatan posisi tawar pembeli 
Segmen tertentu menjadi tidak menarik jika pembeli memiliki kekuatan posisi tawar (bargaining power) yang kuat atau semakin meningkat. 
5). Ancaman peningkatan kekuatan posisi tawar pemasok 
Segmen tertentu menjadi tidak menarik jika para pemasok perusahaan mampu menaikkan harga atau mengurangi kuantitas yang mereka pasok.
Sebuah perusahaan perlu mengumpulkan informasi tentang kekuatan dan kelemahan masing pesaing. 
Menurut perusahaan konsultan Arthur D.Little, sebuah perusahaan akan menempati satu di antara enam posisi kompetitif di dalam pasar sasaran berikut ini:
1. Dominan.
Perusahaan ini mengendalikan perilaku pesaing yang lain dan memiliki pilihan strategis yang luas.
2. Kuat
Perusahaan ini bisa mengambil tindakan mandiri tanpamembahayakan posisi jangka panjangnya dan dapat mempertahankan posisi jangka panjangnya apa pun tindakan yang dilakukan oleh pesaing.
3. Cukup baik
Perusahaan ini memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan dan peluang yang ada diatas rata-rata untuk meningkatkan posisinya.
4. Cukup
Perusahaan ini memiliki kinerja pada tingkat yang cukupuntuk mencapai hasil memuaskan yang bisa terus mempertahankan dalam bisnis. Namun, perusahaan ini ada karena dibiarkan oleh perusahaan yang dominan dan memiliki peluang dibawah rata-rata untuk meningkatkan posisinya.
5. Lemah
Perusahaan ini memiliki kenerja yang tidak memuaskan, tetapi ada peluang untuk memperbaiki. Perusahaan ini harus berubah atau kalau tidak keluar dari pasar.
6. Tidak berpeluang.
Perusahaan ini memiliki kinerja yang tidak memuaskan dan tak ada peluang untuk memperbaiki.
Salah satu langkah yang penting sebelum memulai bisnis adalah melakukan analisa persaingan usaha / analisa kompetitor. Kita sebaiknya mereview literatur dari kompetitor , untuk melihat bagaimana mereka merepresentasikan usaha mereka dan seperti apa public image yang dibangun. Sering kali literatur bisnis memuat mission statement dan juga mengidentifikasi produk dan jasa spesifik mereka. James W. Hart, seorang pakar marketing, memberikan tips analisa persaingan usaha yang meliputi langkah- langkah seperti berikut :
1. Berperanlah sebagai pelanggan kaya uang.
Telponlah pesaing di dekat daerah kita dan berbicaralah dengan representative dari perusahaan tersebut seperti layaknya kita adalah prospek potensial yang sedang mencari informasi. Kita dapat menanyakan dengan rumus 5WH (Who, What, When, Where, Why and How) untuk memberi pertanyaan yang cerdas dan mendapat jawaban tentang kekuatan dan kelemahan pesaing. Salah satu hal terpenting yang harus berhasil dilakukan adalah membuat mereka mengirimkan sales dan information package mereka pada kita, dimana dalam package tersebut akan dijelaskan mengenai produk dan jasa mereka. Literatur bisnis kompetitor kita akan menceritakan secara detil mengenai public image mereka , dan disamping itu kita dapat mempelajari kekuatan dan kelemahan produk dan jasa yang mereka tawarkan secara detil. Pastikan juga mempelajari bagaimana mereka menghandle telepon dari pelanggan, memproses permintaan informasi, dan berapa lama permintaan informasi tersebut akhirnya sampai ke tangan kita.Dapatkah kita menawarkan sistim komunikasi yang lebih baik ? Bagaimana tampilan dari business card mereka ? Hal-hal yang kecil seperti ini dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan dan kelemahan kita sendiri, sehingga dapat ditentukan apakah kita dapat bersaing dengan mereka atau tidak. Apakah kita akan bersaing dalam hal harga atau service yang lebih baik ?
2. Telponlah kompetitor di luar daerah.
Selanjutnya kita dapat menelpon perusahaan yang sejenis (atau yg sedang direncanakan) di luar daerah, dimana kita tidak dianggap sebagai saingan mereka. Dengan demikian, mereka tidak merasa terancam saat kita memberikan pertanyaan. Sangatlah berguna bila kita dapat berbicara dengan personel kunci dari perusahaan sejenis, misalkan di lain propinsi. Saat kita berbicara dengan kompetitor yang jauh jaraknya seperti ini, pendekatannya haruslah lebih“straight-forward”. Kita dapat katakan pada pemilik ataupun managernya, bahwa kita sedang berpikir untuk membuka usaha sejenis dan berharap mendapat masukkan/input dari mereka. Sering kali mereka dengan senang hati akan memberikan input tentang industri mereka, bisnis secara keseluruhan dan banyak lagi informasi gratis. Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati agar tidak menghabiskan waktu terlalu banyak dalam bertanya, batasi percakapan telpon anda 10 sampai 15 menit maksimum. Cara terbaik adalah memikirkan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu, dan menuliskannya di atas kertas, sehingga dapat menanyakannya dengan lancar. Dengan demikian akan tampak seperti seorang professional, dan jika suatu saat perlu menelpon lagi, mereka akan menerimanya. Jika kita terdengar seperti seorang bodoh saat berbicara di telpon, mereka mungkin tidak akan menerima telpon anda lagi. Kuncinya adalah tidak menghamburkan waktu.
3. Terakhir lakukan “in-field competition analysis” dengan melakukan telemarketing pada prospek dan menanyakan apakah mereka mengenal kompetitor kita, pernah menjalin hubungan bisnis dengan mereka, dan lain-lain. Dengan melakukan ini, kita juga melakukan prekualifikasi terhadap prospek potensial yang belum pernah menjalin bisnis dengan kompetitor kita, dan membuka peluang terjadinya penjualan. Sebagai tambahan, di saat kita berada di luar melakukan sales call, kita dapat melakukan cara yang sama saat berbicara dengan prospek dan dapat mengetahui apa yang mereka suka dan apa yang tidak mereka suka dari kompetitor kita. Kita dapat membuka peluang terjadinya penjualan dengan mengidentifikasi poin-poin differensiasi kita terhadap kompetitor.
F.      Identifikasi reaksi pesaing
Reaksi Pesaing maksudnya bagaimana pola dan strategi pesaing dalam merebut segmen pasar yang ada, dan bagaimana perusahaan mampu melakukan terobosan- terobosan baru dalam rangka mengungguli Pesaing yang ada.
Strategi menghadapi pesaing dapat dilakukan dengan cara melemahkan dan menghancurkan pesaing dengan memasang strategi yang kompetitif, dimana strategi kompetitif dilakukan dengan melihat posisi keberadaan kita sebelum melakukan penyerangan.
Beberapa reaksi pesaing bila diserang:
-    Apabila kita menurunkan harga, akan diikuti pesaing dengan menurunkan harga pula, bahkan mungkin lebih rendah dari kita.
-    Apabila kita memberikan hadiah, akan dibalas juga dengan hadiah yang lebih baik.
-    Apabila kita memberikan diskon dalam jumlah tertentu kepada pelanggan, pesaing juga member diskon yang lebih menarik.
-    Apabila kita membebaskan biaya seperti administrasi, pasti akan diikuti pesaing dengan jumlah biaya yang lebih murah.
-    Apabila kita membuka cabang di suatu lokasi, akan dibalas oleh pesaing dengan membuka cabang di lokasi perusahaan kita.
G.    Strategi menghadapi pesaing
Strategi dalam menghadapi pesaing dalam pemasaran antara lain:
1. Strategi produk
Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan di pasar atribut seperti : warna, bungkus, prestise perusahaan serta pelayanan perusahan yang dibeli konsumen untuk dapat memberikan pemuas kebutuhannya.
Usaha perusahan untuk menciptakan produk yang bisa memberikan kepuasan kepada konsumen, kepuasan ini dapat diciptakan dengan berbagai strategi yang telah diputuskan perusahan sebagai usaha untuk mempertahankan kelangsungan operasionalnya dalam jangka panjang. Usaha-usaha tersebut antara lain :
- Perencanaan produk, mencakup semua kegiatan produsen dan penyalur untuk menentukan susunan product line, sehingga konsumen akan visa membedakan produk yang satu dengan lainnya. Maksudnya perusahaan akan selalu mengikuti perkembangan pasar, barang yang ditawarkan harus disempurnakan sebelum mengadakan perubahan barang, informasi ini perlu dikumpulkan melalui riset pasar.
- Pengembangan barang, mencakup kegiatan teknis tentang penelitian, pembuatan dan perencanaan bentuk produk. Kegiatan ini dapat dilakukan setelah menganalisis kebutuhan dan keinginan pasar. Jika permasalahan ini sudah bisa diatasi, maka perusahaan akan melebih mudah uin tuk menentukan harga, distribusi dan promosi.
- Perdagangan, mencakup semua kegiatan perencanaan dari produsen dan penyalur untuk menyesuaikan produknya dengan permintaan pasar.
- Perencanaan produk, mencakup semua kegiatan produsen dan penyalur untuk menentukan susunanproduct line, sehingga konsumen akan bisa membedakan produk yang satu dengan lain nya. Maksudnya perusahaan akan selalu bisa mengikuti perkembangan pasar, barang yang ditawarkan harus disempurnakan sebelum mengadakan perubahan barang, informasi ini perk dikumpulkan melalui riset pasar.
- Pengembangan barang, mencakup kegiatan teknis tentang penelitian, pembuatan dan perencanaan bentuk produk. Kegiatan ini dapat dilakukan setelah menganalisis kebutuhan dan keinginan pasar. Jika permasalahan ini sudah dapat diatasi, maka perusahaan akan lebih mudah menentukan harga, distribusi dan promosi.
- Perdagangan, mencakup semua kegiatan perencanaan dari produsen dan penyalur untuk menyesuaikan produknya dengan permintaan pasar.
2. Strategi Moving, Caring dan Inovating
Persaingan tentunya tidak hanya pada ke dua contoh tersebut namun hampir pada semua bidang usaha kecuali monopoli. Untuk menghadapi persaingan yang sangat ketat tersebut, harus dilakukan perubahan landasan pola pikir yang bertumpu pada tiga kata kunci : moving, caring, dan inovating.
         Moving adalah kemampuan perusahaan untuk mengadaptasikan antara harapan konsumen terhadap suatu produk dan kemampuan untuk memenuhinya. Misalnya adanya airbag untuk mobil untuk menambah keamanan dalam berkendara. Contoh lain misalnya lahirnya TV handphone dari Hisense yang sebelumnya masih menggunakan jaringan 3G dan lain - lain. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan konsumen yang akan menang dalam persaingan.
Dalam mewujudkan semua keiginan konsumen ini, agar berhasil baik, moving harus disertai dengan caring dan inovating.Yang dimaksud dengan caring kepedulian kepada konsumen. Dalam tahap caring ini perusahaan berusaha memahami sebaik mungkin apa yang dibutuhkan konsumen.
Untuk mewujudkan keinginan konsumen tersebut, hanya dapat ditempuh melalui inovasi disemua aspek perusahaan meliputi bidang strategi, manajerial maupun produk/jasa. Inovasi di bidang strategi dan manajerial merupakan proses untuk menghantarkan nilai tambah bagi konsumen. Inovasi bidang strategi dan manajerial ini ditempuh dengan penggunaan strategi ataupun manajemen baru dalam perusahaan.
Inovasi dalam bidang produk meliputi kelengkapan produk dan juga teknologi terbaru. Inovasi ini tentunya hanya akan berhasil dipasaran apabila proses caring berjalan bagus. Inovasi produk sesuai dengan harapan konsumen ataupun inovasi baru yang mempunyai nilai guna lebih bagi konsumen.
Apabila moving, caring, inovating ini dapat berjalan dan terintegrasi dengan baik, maka kepuasan pelanggan akan menghasilkan kepercayaan dan hubungan jangka panjang yang berkelanjutan, atau dengan kata lain terciptalah loyalitas pelanggan.
Dengan adanya loyalitas ini persaingan usaha menjadi tidak begitu berat, tinggal bagaimana kita menjaga pelangan.
 3. Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi

Dewasa ini kata KOMPETISI banyak ditafsirkan sebagai sebuah drama yang selalu melahirkan "Pemenang" sekaligus mencetak sekumpulan "Orang Kalah". Sebagai konsekuensinya, "Pemenang" akan ditafsirkan sebagai sosok yang menjulang di puncak kejayaan, yang akan dipandang dengan wajah menengadah oleh kaum "terkalahkan".
Sekejam itukah makna KOMPETISI? Apalagi bila panggung kompetisi ini sudah menapak, sudah mengejawantah di kehidupan riil sehari-hari. Sungguh kejam bila alam semesta ini pada akhirnya dikotak-kotakkan sebagai winner-looser, sebagai leader-follower, sebagai champion-mediocre, sebagai developing-under developed, atau sebagai central-marginal. Sedangkal itukah Hukum Alam yang harus dijalani oleh manusia?
Tentu tidak! Tuhan Sang Pemangku semesta alam ini sudah menyerukan untuk "Berlomba-lomba di dalam kebaikan". Ini artinya, hakikat sejati dari KOMPETISI akan jauh lebih dalam dari sekedar menang-kalah. Ada energi positif yang sangat besar, yang mengandung berjuta manfaat, yang dikandung oleh drama bernama KOMPETISI ini.
Sebagai contoh, kesuksesan Tim Olimpiade Fisika Indonesia sebagai the rising star, telah memacu ratusan SMA unggulan di seantero negeri untuk menempatkan wakil-wakilnya. Walaupun akhirnya tim terpilih hanya terdiri dari "hitungan jari", tidak berarti ribuan siswa yang telah ikut berkompetisi lantas menjadi sia-sia.
Tengoklah, berapa banyak SMA yang saat ini dengan bangga memasang papan nama "Mitra Olimpiade Fisika" dihalaman muka sekolahnya? Berapa banyak siswa SMA yang mendadak "jatuh cinta" pada mata pelajaran yang dulunya biasa dianggap monster? Semua pencapaian itu adalah hasil SINERGI dari ribuan siswa yang (menjadi) antusias, hasil SINERGI dari ratusan guru yang (menjadi) kompeten. Dan semua aktifitas ini berpusaran dengan KOMPETISI (Olimpiade Fisika) sebagai pusat orbitnya.
Jadi apa hakikat sejati dari KOMPETISI itu? Untuk menjawabnya, kita mengacu pada sebuah Hukum Alam, yaitu bahwa segala sesuatunya di alam semesta ini selalu bergerak memutar. Semua mahluk Tuhan tanpa kecuali, selalu bergerak memutar.
Tengoklah, sekumpulan tatasurya akan mengorbit membentuk galaksi. Sekumpulan galaksi mengorbit membentuk super cluster. Sekumpulan elektron akan mengorbit membentuk molekul. Metabolisme manusia juga merupakan pusaran, sirkulasi dari energi kimia (makanan) menjadi energi tubuh (bio energi) dengan perantaraan sirkulasi darah dimana jantung merupakan pusat orbitnya. Contoh-contoh di atas menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini selalu berpusaran pada "sesuatu" yang lebih besar dari dirinya.
KOMPETISI adalah sebuah bentuk pusaran. Sang "pemenang" adalah pusat orbitnya, sementara "peserta lainnya" akan berputar mengelilinginya. Tidak ada istilah "kalah-menang" di sini, karena kewajiban sang "pemenang" adalah membagi ilmunya, membagi pengalamannya, menebar energi positifnya, kepada siapa saja yang mengorbit di sekelilingnya. Sedangkan kewajiban "peserta lainnya" adalah membuka diri untuk menyerap energi, menyerap ilmu, menyerap pengalaman dari sang pusat orbit, sang "pemenang". Inilah sebuah bentuk SINERGI..
Meskipun sama-sama mengorbit, tapi ada perbedaan mendasar antara manusia dengan mahluk Tuhan lainnya dalam melakukan SINERGI nya. Seperti "bumi-matahari", sampai kapan pun bumi selalu mengitari matahari dan tak mungkin terjadi hal sebaliknya. Tapi manusia sama sekali berbeda.
Manusia, mahluk Tuhan yang telah di "inisiasi" sebagai penguasa bumi dan isinya, telah dianugerahi kemampuan yang tak terbatas. Setiap orang memang akan selalu "mengorbit" pada seseorang yang lebih sukses dari dirinya. Seorang karyawan mengorbit pada perusahaan tempat ia bekerja. Seorang pengusaha akan mengorbit pada segmen konsumen tertentu dan juga mengorbit pada pengusaha senior lainnya (baca: networking). Seorang trainer akan mengorbit pada seorang guru yang lebih diakui kesahihannya. Tapi pada satu titik, setelah ia sukses menyerap energinya, menyerap pengalamannya, ia akan lepas, dan menjelma sebagai pusat orbit yang baru.
Kini ia akan beralih tugas, dari "menyerap" berubah menjadi "membagi". Dan di sekelilingnya PASTI akan mengorbit rekannya, muridnya, koleganya, bawahannya atau pengagumnya yang dengan hati terbuka bersedia menyerap ilmu dan pengalamannya. Terjadilah sebuah SINERGI yang menjadi mata rantai tak terputuskan. Saling memberi dan menerima. Inilah hakikat yang terdalam dari sebuah KOMPETISI, yang jauh lebih bermakna dari sekedar kalah-menang.
Tahun 2008 sudah kita masuki, marilah kita jalani peran kita masing-masing dengan sebaik-baiknya, agar terjadi SINERGI, yang memang merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia. Anda yang sedang jadi "pemenang" , sedang menjadi atasan, sedang menjadi idola, bagilah pengalaman dan energi Anda. Sedangkan Anda yang sedang mengorbit, bukalah hati Anda agar dapat maksimal dalam "menyerap".
Suatu saat, atasan-bawahan, idola-pengagum, junior-senior, market leader-follower, pasti akan bertukar peran. Dan itu PASTI terjadi karena memang sudah menjadi ketentuan alam.
4. Kemitraan dan Pengecualian
Dilatar-belakangi oleh kesempatan untuk menumbuhkembangkan regional airlines pada The European Community Commission (ECC) yang telah dijelaskan di bab Pendahuluan, maka muncul permasalahan apakah akan dikembangkan suatu iklim persaingan atau kemitraan antara airlines tersebut. Dengan harapan bahwa peranan maskapai penerbangan adalah untuk menggalang persatuan negara-negara Eropa Barat ke dalam Uni Eropa yang bersatu, maka jelas bahwa mereka memilih sistem kemitraan dari pada persaingan. Hal ini juga seperti dikatakan oleh Jacques Naveau: "Jelas, bahwa konsep awal suatu kebijakan transpor udara di Eropa telah dilandasi oleh suatu visi politik dari sebuah sistem Eropa yang menyatu, serta mengutamakan pada kemitraan dalam mewujudkan visi tersebut".
Dipilihnya sistem kemitraan tersebut, karena mereka tampaknya menyadari bahwa sistem persaingan akan menjadi kendala bahkan mungkin juga akan mengakibatkan disintegrasi yang jelas akan menggagalkan segenap upaya yang telah disepakati itu.
Jaringan rute penerbangan di Uni Eropa dirajut menggunakan pola dasar yang dikenal sebagai pola Hub-and-Spoke, yang mereka pelajari dari AS. Bedanya antara jaringan rute penerbangan di AS, merupakan perkembangan sebagai konsekuensi dari kebijakan deregulasi, terhadap jaringan penerbangan yang sudah ada sebelumnya. Sedang pola jaringan rute penerbangan di Uni Eropa ditandai dengan berfungsinya Ibukota negara-negara yang tergabung ke dalam Uni Eropa sebagai hub dari masing-masing regional airlines-nya. Dengan pola ini maka sektor-sektor yang menghubungkan setiap ibukota tersebut akan hanya dilayani oleh dua regional airlines. Disebut juga sebagai sektor duopoly.
Sedang sektor-sektor yang menghubungkan suatu hub dengan spoke (cities) yang masih terletak di dalam batas-batas wilayah suatu negara, merupakan sektor monopoli dari regional airline-nya. Beberapa negara seperti Swiss misalnya memiliki dua kota sebagai hub, maka sektor yang menghubunginya dengan sendirinya merupakan suatu sektor monopoli. Jaringan pola di atas mulai diatur sejak 1987 dan berakhir pada tahun 1997 setelah dicanangkannya kebijakan Complete Liberalisation, yang memungkinkan sebuah pesawat untuk terbang dari hub-nya (Ibukota dalam negara masing-masing) ke spoke (city/kota-kota dalam negara masing-masing) dari negara lain.
Para policy-makers dari Eropa melihat atau menilai Amerika Serikat telah berhasil membentuk sebuah pasar homogen, yang ditujukan sebagai suatu defence system dalam menghadapi persaingan global barang dan jasa dengan tingkat harga yang sangat kompetitif di masa mendatang. Terbentuknya Uni Eropa dan uni-uni lainnya seperti Uni Afrika yang merupakan 'regionalisasi' dari negara-negara di Afrika, kemudian uni yang terdiri dari negara-negara Arab di Timur-Tengah, dan tak ketinggalan pula regionalisasi Asean, tampaknya sudah menjadi condition yang tidak bisa dihindari lagi pewujudannya. Dengan kata lain, persaingan global di masa mendatang akan merupakan persaingan antara uni-uni atau regional-regional tersebut, yang harus dihadapi oleh kesatuan 'pasar tunggalnya' masing-masing uni atau regional.
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa visi politik dari sebuah sistem Eropa yang menyatu, mengutamakan pada kemitraan atau kerja sama dalam mewujudkan visi tersebut. Di bidang penerbangan, kemitraan dilangsungkan dengan mengadakan aliansi-aliansi sesuai kebutuhan dan dilandasi oleh win-win solution, bilateral maupun multilateral agreements seperti pooling agreements, code-sharing dan on-line, sampai ke mergers. Bila kemitraan tersebut dikaitkan dengan undang-undang dan ketentuan-ketentuan anti monopoli atau anti trust law, maka jelas bahwa kesesuaiannya itu dapat diklasifikasi sebagai pelanggaran atau pengecualian.
Namun, mengingat bahwa kemitraan seperti di atas merupakan faktor yang menentukan dan diperlukan guna menggalang suatu 'European Air Transport Single Market' yang homogen, maka kemitraan semacam itu dikecualikan dari undang-undang anti trust atau anti monopoli. Dengan kata lain, selama kemitraan semacam itu bertujuan atau digunakan untuk kepentingan yang lebih besar atau luas seperti guna meningkatkan kesejahteraan UKM dalam suatu demensi atau wilayah yang sangat luas seperti dalam sebuah uni Eropa misalnya, maka bentuk kemitraan apapun dapat dikecualikan dari UU Anti Monopoli. Dengan ketentuan, selama itu tidak menghambat atau menjadi kendala pada kelancaran 'berjalannya' Uni Eropa atau bila itu akan merugikan suatu kelompok, golongan atau individu terutama para konsumennya, maka kesemuanya itu dapat dikecualikan dari UU Anti Monopoli. Terdapat kesan bahwa segala jenis usaha transportasi di Uni Eropa, semuanya dikecualikan dari ketentuan-ketentuan UU Anti monopoli.
Sudah menjadi jelas bahwa kemitraan yang berlangsung untuk tujuan-tujuan yang lebih luas seperti demi kesejahteraan bagi masyarakat yang lebih luas, sangat berbeda dengan kemitraan-kemitraan yang bertujuan untuk kepentingan suatu kelompok atau golongan dan atau individu tertentu yang hanya ingin menang sendiri. Seperti dibentuknya monopoli-monopoli yang dapat merugikan kepentingan orang banyak, maka kemitraan semacam terakhir itu harus ditindak tegas dengan menegakkan hukum UU Anti Monopoli tersebut.
Perlu dicermati bahwa dengan diliberalisasikan kemitraan yang lebih bebas, tidak berarti tidak diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aturan mainnya. Malah sebaliknya, dalam iklim usaha yang lebih liberal justru diperlukan peraturan perundangan yang lebih jelas dan tegas dalam mengatur aturan main agar industrinya dapat dicegah atau agar tidak mengalami kebablasan yang pada ujung-ujungnya hanya akan merugikan kepentingan orang banyak atau masyarakat luas.
Industri penerbangan Indonesia sebaiknya mampu atau lebih penting lagi, mau mencermati dan memahami perkembangan maupun perubahan-perubahan yang terjadi baik pada industri penerbangan di AS maupun di UE. Bila UE telah berhasil membentuk suatu European Air transport Single Market homogen yang mengacu pada hasil-hasil yang telah dipelajarinya dari AS, maka tidak ada salahnya bila kita juga mau belajar terutama perkembangan industri penerbangan di UE.
Hal ini mengingat bahwa bila di UE pasar tunggalnya dibentuk oleh maskapai penerbangan dari negara-negara anggotanya, maka di Indonesia diharapkan dapat dibentuk oleh regional airlines dengan ibukota propinsi sebagai hub dari pola rute penerbangan hub-and-spokenya. Mudah-mudahan.
5. Cara Menghadapi sebuah Perang Harga
Dibawah ini disebutkan beberapa teknik menghadapi persaingan harga dan dan non-harga secara singkat :


Taktik

Contoh


Respon non harga


Tunjukan strategic intention dan capabilities anda

Tawarkan harga sama dengan pesaing anda, tawarkan everyday low price, atau tunjukan bahwa anda memliki keunggulan biaya dimata pesaing (cost advantage)


Bersaing di kualitas

Tingkatkan diferensiasi produk dengan menambahkan keunggulan pada sebuah produk, atau bangun awareness terhadap keunggulan yang ada dan manfaatnya. Tekankan adanya resiko pada harga yang murah.


Manfaatkan kemungkinan kerjasama

Bentuk strategic partnersip dengan menawarkan kerjasama ekslusif dengan supplier, reseller, atau penyedia jasa yang berhubungan dengna bisnis anda.


Respon Harga


Gunakan harga yang komplek

Tawarkan harga paket (bundled prices), paket harga dua produk (two-part pricing), kuantiti diskon, harga promosi, atau program loyalitas untuk beberapa produk, beli dua dapat satu.


Kenalkan produk baru

Perkenalkan produk baru (flanking brands) yang khusus untuk bersaing di arena dimana pesaing menerapkan strategi harga. Hal ini juga sebagai usaha untuk menghindari persaingan harga pada segmen produk anda yang telah ada.


Gunakan harga yang menarik

Sesuaikan harga produk regular anda dalam merespon perubahan harga pesaing atau potensi lain untuk memasuki pasar

6. Competitive Intelligence Program (CIP)
Secara umum, CIP adalah proses secara terus-menerus secara sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kegiatan para pesaing dan kecenderungan-kecenderungan bisnis (trend politik, ekonomi, teknologi) untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Dalam artian lain, CIP ini merupakan kegiatan spionase secara legal untuk kemajuan perusahaan.
Seseorang dari perusahaan telepon seluler melakukan perjalanan menjelajahi Philadelphia sambil menyadap transmisi telepon seluler pesaingnya. Yang disadap bukanlah
pembicaraan orang lain dan dia tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau yang tidak etis, tetapi dia sedang mengukur kekuatan dan jangkauan sinyal pesaing mereka.
Sebuah perusahaan minuman menganalisis air limbah yang dikeluarkan oleh perusahaan pesaingnya. Tujuan akhirnya adalah untuk menghemat biaya promosi dan iklan. Semua orang-orang ini terlibat dalam dunia intelejen kompetitif yang misterius. Inilah dunia yang dihuni oleh mata-mata perusahaan dan orang bisnis yang keras hati, yang mencari peluang untuk mengalahkan pesaingnya. Bila hal tersebut dilakukan secara bertanggung jawab, maka kegiatan tersebut menjadi sah dan etis, walaupun beberapa perusahaan telah diketahui melampaui batas, seperti mencuri informasi, menyadap telepon, merampok kantor, dengan demikian mereka telah memasuki dunia spionase industri.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa sudah layaknyalah perusahaan memiliki strategi pemasarannya sendiri sebelum mereka menjalankan ataupun memasarkan produk /jasanya.
Strategi pemasaran yang dibuat hendaknya haruslah mempertimbangkan situasi dan keadaan perusahaan baik keadaan intern perusahaan itu sendiri atau lingkungan mikro perusahaan, maupun keadaan ekstern perusahaan atau yang dikenal dengan lingkungan makro perusahaan.
Perusahaan yang berjaya dan mampu mempertahankan serta meningkatkan lagi penjualannya ditengah-tengah pesaingnya adalah perusahaan yang telah berhasil menetapkan strategi pemasarannya serta strategi bersaingnya dengan tepat.
Adapun penentuan strategi bersaing hendaknya dilakukan dengan mempertimbangkan kepada besar dan posisi masing-masing perusahaan dalam pasar. Karena perusahaan yang besar mungkin dapat menerapkan strategi tertentu yang jelas tidak bisa dilakukan oleh perusahaan kecil. Demikian pula sebaliknya, bukanlah menjadi sesuatu yang jarang terjadi bahwa perusahaan kecil dengan strateginya sendiri mampu menghasilkan tingkat keuntungan yang sama atau bahkan lebih baik daripada perusahaan besar.
Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan semua hal diatas, maka dapat dipastikan perusahaan akan dapat menetukan dengan baik strategi pemasarannya serta strategi bersaingnya, untuk tetap maju dan berkembang ditengah-tengah persaingannya.
Dalam bauran pemasaran terdapat empat variabel yang sangat penting dalam strategi pemasaran, yaitu terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat. Keempat variabel itu diperlukan dalam bauran pemasaran dan keempat variabel ini harus saling berkaitan satu sama lain. Hal ini bertujuan agar dapat mencapai tujuan dari strategi pemasaran yang berupa keberhasilan menyeluruh. Yang sangat dipentingkan, bahwa pemilihan pasar target dan pengembangan bauran pemasaran saling berkaitan. Kedua kegiatan ini diputuskan bersama. Yang harus dibandingkan dengan tujuan perusahaan adalah strategi bukan pasar target alternatif atau bauran pemasaran alternatif.
B. SARAN
Demikianlah penulisan makalah ini, apabila masih terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pembahasan makalah ini, terutamanya penulis ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya dan juga penulis harapkan teguran yang sehat sekiranya dapat membangun dalam perbaikan pembuatan makalah ini.

Jumat, 12 September 2014

MINI RISET : FAKULTAS EKONOMI TENTANG FAKTOR - FAKTOR STRATEGI PEMASARAN

MINI RISET : FAKULTAS EKONOMI TENTANG FAKTOR - FAKTOR PEMASARAN - Kali ini admin ingin membagikan mini riset tentang faktor - faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran, dengan banyaknya permintaan dari teman - teman kantor yang sedang menempuh kuliah di jurusan ekonomi, kalo kalian membutuhkan makalah -  makalah lain klik saja di kUMPULAN MAKALAH - MAKALAH KULIAH. Selanjutnya silahkan simak dan copy paste Mini Riset di Bawah Ini

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA/MAHASISWI MENABUNG DI BMT SURYA SEKAWAN KALIBEBER
(STUDI KASUS PADA MAHASISWA/MAHASISWI UNSIQ WONOSOBO)
Tugas ini disusun guna memenuhi ujian mata kuliah statistik II, yang diampu oleh Ibu Kurniawati Mutmainah, SE., M.Si.
LOGO UNSIQ
Disusun oleh :
Ahmad Abidin Akuntansi / 5011.001
Kiki Permatasari Akuntansi / 5011.020
Miftahudin Akuntansi / 5011.026
Riza Akhmad Ghifari Akuntansi / 5011.036
Dany Ariyanto Akuntansi / 5011.052
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2012 / 2013
ABSTRAK
     Penelitian ini dilatar belakangi oleh tingkat perkembangan BMT di Kalibeber yang tinggi yang tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah nasabah yang seimbang. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi jumlah nasabah yang menabung di BMT Surya Sekawan. Penyedia pelayanan terhadap nasabah harus menyiapkan strategi terbaik untuk menarik konsumen atau nasabah agar menabung di BMT tersebut, karena dengan munculnya persaingan BMT baru yang menawarkan berbagai fasilitas maka nasabah semakin kolektif dalam memilik BMT.
Peran BMT Surya Sekawan sebagai lembaga keuangan syariah sejatinya adalah sebagai lembaga intermediasi antara pemilik dana dengan pelaku usaha. Pembiayaan syari’ah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan usaha anggota sesuai dengan system syari’ah yang terbebas dari transaksi ribawi.
Dengan menggunakan system syari’ah anda akan mendapatkan layanan yang adil karena kemajuan usaha anda adalah kebahagiaan kami. Masalah dalam penelitian ini adalah “ faktor – faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa/mahasiswi menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber (Studi Kasus Pada Mahasiswa/Mahasiswi UNSIQ Wonosobo”. Yang secara khusus difokuskan pada tiga variabel yaitu fasilitas, lokasi dan pelayanan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mempelajari pengaruh tiga variabel tersebut dalam mempengaruhi minat mahasiswa untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber. Setelah melakukan kajian literatur dan penyusunan hipotesis, data yang dikumpulkan memalui kuesioner pada 75 mahasiswa UNSIQ yang diperoleh menggunakan teknik sampling sistematik. Kemudian dilakukan analisis data yang diperoleh dengan menggunakan analisis regresi berganda. Analisis ini mencakup: validitas dan reliabilitas, analisis regresi berganda, pengujian hipotesis dan analisis koefisien deter minasi ( R2 ). Dari analisis tersebut diperoleh analisis regresi:
Y = 12.773-0,257 X1-0,299X2+0,403X3
Dimana variabel minat mahasiswa untuk menabung (Y), fasilitas (X1), lokasi (X2) dan pelayanan (X3) diuji menggunakan uji hipotesis menunjukkan bahwa ketiga variabel independen secara signifikan mempengaruhi minat mahasiswa sebagai variabel dependen. Kemudian memalui uji hipotesis menunjukkan bahwa variabel fasilitas, lokasi dan pelayanan yang tepat untuk menguji variabel minat mahasiswa untuk menabung. Angka Adjusted R square sebesar 0,118 menunjukkan bahwa 11,8 persen variabel minat mahasiswa untuk menabung dapat dijelaskan melalui ketiga variabel independen dalam persamaan regresi. Sedangkan sisanya 88,2 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar ketiga variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
Kata kuci : minat mahasiswa untuk menabung, fasilitas, lokasi dan pelayanan.
KATA PENGANTAR
     Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan mini riset yang berjudul “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA/MAHASISWI MENABUNG DI BMT SURYA SEKAWAN KALIBEBER (STUDI KASUS PADA MAHASISWA/MAHASISWI UNSIQ WONOSOBO)”. Guna memenuhi tugas mata kuliah statistik II di Fakultas Ekonomi Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah Di Wonosobo.
Akhirnya sebagai pihak yang telah memberikan bantuan fisik, moral, serta material hingga terselesainya mini riset ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Drs. Muntohar,M.M., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas   Sains Al-Qur’an Jawa Tengah Di Wonosobo.
2. Ibu Kurniawati Mutmaimh,S.E.,M.Si. selaku Dosen pengampu mata kuliah statistik II.
3. Orang tua, serta pihak keluarga yang memberikan dukungan baik moril maupun materiil kepada penulis.
4. Semua pihak yang paling tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu menyelesaikan tugas mini riset ini.
Dengan penuh kesadaran kami menyadari bahwa dalam penyusunan mini riset ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sebgai kesempurnaan selal penulis harapkan, demikian mini riset ini semoga dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta pihak-pihak yang membutuhkan.
DAFTAR ISI
Halama Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Fasilitas
2.1.2 Lokasi
2.1.3 Pelayanan
2.1.4 Minat Mahasiswa/Mahasiswa Menabung
2.2 Kerangka pemikiran
2.3 Hipotesis penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
3.2 Lokasi Penelitian
3.3 Obyek Penelitian
3.4 Variabel Penelitiab 11
3.5 Sumber dan Jenis Data 11
3.6 Populasi dan Sampel
3.7 Metode Pengumpulan Data dan Metode Analisis
3.8 Tekhnik Analisi
3.8.1 Uji Kualitas Data
3.8.2 Uji Koefisien Korelasi
3.8.3 Uji Koefisien Determinasi
3.8.4 Uji Koefisien Garis Regresi
3.8.5 Uji Koefisien Hipotesis
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Kualitas Data
4.1.1 Uji Validitas
4.1.2 Uji Reliabilitas
4.2 Uji Koefisien Korelasi
4.3 Uji Koefisien Determinasi
4.4 Uji persamaan Garis Regresi
4.5 Pengujian Hipotesis
4.5.1 Pengujian Pengaruh Fasilitas Terhadap Minat Mahasiswa/Mahasiswi
Menabung
4.5.2 Pengujian Pengaruh Lokasi Terhadap Minat Mahasiswa/Mahasiswi
Menabung
4.5.3 Pengujian Pengaruh Pelayanan Terhadap Minat Mahasiswa/Mahasiswi Menabung
4.5.4 Pengujian Pengaruh Fasilitas, Lokasi Dan Pelayanan Terhadap
Minat Mahasiswa/Mahasiswi Menabung
4.6 Pembahasan
4.6.1 Pengujian Pengaruh Fasilitas Terhadap Minat Mahasiswa/Mahasiswi
Menabung
4.6.2 Pengujian Pengaruh Lokasi Terhadap Minat Mahasiswa/Mahasiswi
Menabung
4.6.3 Pengujian Pengaruh Pelayanan Terhadap Minat Mahasiswa/Mahasiswi Menabung
4.6.4 Pengujian Pengaruh Fasilitas, Lokasi Dan Pelayanan Terhadap
Minat Mahasiswa/Mahasiswi Menabung
BAB V KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2,1 : Model Penelitian
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 : Hasil Uji Validitas
Tabel 4.2 : Hasil Uji Reliabilitas
Tabel 4.3 : Hasil Uji Koefisien Korelasi
Tabel 4.4 : Model Summary
Tabel 4.5 : Kofisien
Tabel 4.6 : Hasil Penguji Pengaruh Fasilitas Terhadap
Minat Mahasiswa Menabung
Tabel 4.7 : Hasil Penguji Pengaruh Lokasi Terhadap
Minat Mahasiswa Menabung
Tabel 4.8 : Hasil Penguji Pengaruh Pelayanan Terhadap
Minat Mahasiswa Menabung
Tabel 4.9 : Hasil Penguji Pengaruh Fasilitas, Lokasi Dan
Pelayanan Terhadap Minat Mahasiswa Menabung
Tabel 4.10 : Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner
Lampiran 2 Data responden
Lampiran 3 Uji Validitas minat mahasiswa menabung
Lampiran 4 Uji Validitas fasilitas
Lampiran 5 Uji Validitas lokasi
Lampiran 6 Uji Validitas pelayanan
Lampiran 7 Uji Reliabilitas minat mahasiswa menabung
Lampiran 8 Uji Reliabilitas fasilitas
Lampiran 9 Uji Reliabilitas lokasi
Lampiran 10 Uji Reliabilitas pelayanan
Lampiran 11 Uji Hipotesis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang Masalah
Islam mengajarkan pada pemeluknya untuk berperan aktif dalam mengembangkan ekonomi umat. Salah satu upaya untuk mengembangkan ekonomi umat di Indonesia adalah dengan pendirian bank syariah, pada saat pemerintah mengeluarkan paket kebijakan moneter yang mengatur deregulasi industri perbankan di Indonesia. Bank syariah didirikan dengan tujuan mempromosikan dan mengembangkan peranan prinsip-prinsip Islam dan tradisinya kedalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis lainnya.
Bank syariah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Bank sebagai lembaga intermediasi, menerima simpanan dari nasabah dan meminjamkan kepada nasabah lain yang membutuhkan dana, dari simpanan para nasabah itu, bank memberi imbalan berupa bunga. Dalam perbankan syariah, tidak terdapat sistem bunga karena prinsip operasionalnya menggunakan bagi hasil.
Keberadaan bank syariah dalam sistem perbankan di Indonesia sebenarnya telah dikembangkan sejak tahun 1992 sejalan dengan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Namun demikian UU tersebut belum mampu memberikan landasan yang kuat terhadap perkembangan perbankan, karena belum secara tegas mengatur mengenai pengembangan lembaga keuangan tersebut, melainkan hanya mengenai sistem bagi hasil. Pengertian bank bagi hasil yang dimaksudka dalam undang-undang tersebut belum mencangkup secara tepat terhadap bank bagi hasil, demikian pula dengan ketentuan operasional, sampai dengan tahun 1998 belum terdapat perangkat hukum operasional yang lengkap secara khusus mengatur usaha kegiatan bank syariah.
Pada masa sekarang ini, bank syariah telah mampu memberikan bantuan kepada pemerintah terutama sektor permodlan yang sangat mudah untuk didapatkan oleh seorang pengusahan dalam menghidupkan kembali sendi-sendi investasi di Indonesia. Dengan keberadaan bank syariah yang semakin memberikan prospek yang cerah terhadap iklim investasi didalam negeri, mendorong munculnya lembaga-lembaga keuangan syariah yag sejenis, sehingga bermunculan Baitul Mal Tamwil (BMT) diseluruh Indonesia.
Lembaga Baitul Maal (rumah dana), merupakan lembaga bisnis dan sosial yang pertama dibangun oleh Nabi. Lembaga ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Para ahli ekonomi Islam dan sarjana ekonomi Islam sendiri memiliki sedikit perbedaan dalam menafsirkan Baitul Mal ini. Sebagian berpendapat bahwa Baitul Mal itu semacam bank sentral, seperti yang ada saat ini. Tentunya dengan berbagai kesederhanaannya karena keterbatasan yang ada. Sebagian lagi pendapatan, bahwa baitul mal semacam menteri keuangan atau bendahara negara. BMT adalah lembaga ekonomi mikro yang beroperasi bedasarkan prinsip-prinsip syariah. Karena merupakan lembaga keuangan, BMT juga menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat. Lembaga ini secara tidak langsung bersentuhan dengan masyarakat tingkat ekonomi menengah kebawah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lembaga keuangan bank maupun non bank yang bersifat formal, yang beropeasi di perdesaan, umumnya tidak dapat menjangkau lapisan masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah. Ketidakmampuan tersebut terutama dari sisi penangunan resiko, biaya operasional, dan dalam indentifikasi usaha pemantauan penggunaan kredit yang layak usaha. Ketidakmampuan lembaga ini menjadi penyebab kekosongan pada segmen pasar keuangan di wilayah perdesaan. Akibatnya 70% sampai 90% kekosongan ini diisi oleh lembaga keuangan non formal yang ikut beroperasi, seperti rentenir (bank plecit dalam bahasa jawa) dengan menggunakan suku bunga yang sangat tinggi. Sehingga kehadiran BMT merupakan angin segar bagi masyarakat. Begitu juga dengan BMT Surya Sekawan sebagai salah satu lembaga keuangan yang ada di Kalibeber menawarkan produk yang bermacam-macam kepada masyarakat, baik itu produk simpanan maupun pembiayaan.
Dalam bisnis hal apapun tidak bisa melepaskan diri dari kualitas pelayanan. Apalagi dalam bisnis jasa, kualitas pelayanan menjadi hal yang sangat penting sebagai pemberian mutu tertinggi kepada konsumen (nasabah). Konsumen akan merasa puas jika sistem pelayanan yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan yang diharapkan oleh nasabah. Sebaliknya nasabah akan merasa kecewa jika sistem pelayanan yang diberikan oleh perusahaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan (nasabah).
Sejak didirikannya kantor BMT Surya Sekawan Kalibeber kurang lebih 15 tahun yang lalu, jumlah nasabahnya terus meningkat. Hingga saat ini jumlah nasabah BMT Surya Sekawan Kalibeber berjumlah 2.000 orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa publik telah mengenal sama sekaligus citra dari BMT Surya Sekawan Kalibeber baik melalui iklan, informasi dari mulut ke mulut, maupun pengalaman dari seseorang yang telah menjadi nasabah. Selain itu juga letak BMT Surya Sekawan ini tidah jauh dari pasar Kalibeber sehingga banyak masyarakat yang menggunakan jasa BMT Surya Sekawan tersebut.
Di sisi lain faktor pertama dalam pelayanan yang dapat mempengaruhi nasabah terhadap menabung adalah fasilitas (keberwujudan). Faktor ini sangat mendukung terhadap kualitas pelayanan yang diberikan, faktor sarana dan prasarana seperti kenyamanan ruang, peralatan yang tersedia untuk membantu nasabah senang melakukan transaksi di bank dengan fasilitas yang memadai dan peralatan yang mencungkupi, maka nasabah akan merasa uas untuk menabung di bank tersebut. Faktor yang kedua adalah keandalan (reliability), merupakan kemampuan dari karyawan BMT untuk dapat melaksanakan sistem pelayanan yang semestinya. Sedangkan faktor ketiga adalah kepastian (assurance), merupakan pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuannya untuk memberikan kesan dapat dipercaya dan penuh keyakinan. Faktor keempat adalah lokasi, merupakan suatu tempat BMT dimana perusahaan harus bermarkas dan melakukan operasi.
Berdasarkan latar belakang atau permasalahan diatas, penyusunan tertarik melakukan penelitian tentang “     FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA/MAHASISWI MENABUNG DI BMT SURYA SEKAWAN KALIBEBER”.  Diindifikasikan bahwa mahasiswa atau nasabah dipengaruhi oleh sistem fasilitas, pelayanan dan lokasi. Oleh karena itu penyusunan mengadakan penelitian sekaligus menganalisis, mengkaji serta membahasnya lebih jauh lagi untuk menjelaskan masalah tersebut. Penyusunan memilih BMT Surya Sekawan Kalibeber merupakan salah satu BMT yang diminati oleh masyarakat atau nasabah.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan penulis maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu :
  1. Apakah fasilitas mempengaruhi minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber ?
  2. Apakah lokasi mempengaruhi minat mahasiswa UNSIQ menabung untuk di BMT Surya Sekawan Kalibeber ?
  3. Apakah pelayanan mempengaruhi minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber ?
  4. Apakah fasilitas, lokasi dan pelayanan mempengaruhi minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan?
1.3    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
  1. Untuk membuktikan pengaruh fasilitas terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber.
  2. Untuk membuktikan pengaruh lokasi terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber.
  3. Untuk membuktikan pengaruh pelayanan terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber.
  4. Untuk membuktikan pengaruh positif fasilitas, lokasi dan pelayanan terhadap mahasiswa menabung di BMT Surya Sekawan.
1.4    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat hasil penelitian ini, diharapkan :
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak BMT, yaitu sebagai masukan dan pertimbangan dalam mengembangkan dan menyempurnakan kebijakan BMT, terutama yang berhubungan dengan fasilitas, pelayanan yang disediakan dan pemilihan lokasi sehingga bisa mempertahankan jumlah pelanggan (nasabah).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Fasilitas
Fasilitas adalah sumber daya fiik yang ada sebelum suatu jasa dapat ditawarkan kepada konsumen atau nasabah (Tjiptono,1997), Sedangkan menurut Sulastiyono (2006) fasilitas adalah penyediaan perlengkapan-perlengkapan fisik untuk memberikan kemudahan kepada para nasabah dalam melakukan menabung. Segala fasilitas yang ada yaiutu kondisi fasilitas, perlengkapan serta kebersihan fasilitas harus diperhatikan terutama yang berkaitan erat dengan apa yang dirasakan atau didapat konsumen secara langsung. Pelanggan memang harus dipuaskan, sebab kalau tidak puas akan meninggalkan perusahaan dan menjadi pelanggan pesaing.
Manfaat fasilitas yang disediakan untuk para pelanggan atau nasabah BMT Surya Sekawan mempunyai tujuan yang hendak dicapai, antara lain mempelancar para nasabah dalam melakukan aktifitas menabung. Agar lebih efisien dan efektif, memungkinkan runag gerak yang lebih leluasa dalam melaksanakan kegiatan, memberikan kenyamanan dan keamanan bagi yang bersangkutan, serta menimbulkan rasa puas pada orang yan berkepentingan.
2.1.2 Lokasi
            Lupiyoadi (2001) menyatakan lokasi berarti berhubungan dimana perusahaan harus bermarkas dan melakukan operasi. Dalam hal ini ada tiga jenis interaksi yang mempengaruhi lokasi, yaitu :
  1. Konsumen mendatangi pemberi jasa
Apabila keadaanya seperti ini maka lokasi menjadi sangat penting. Perusahaan sebaiknya memilih tempat dekat dengan konsumen sehingga mudah dijangkau, dengan kata lain harus strategis.
  1. Pemberian jasa mendatangi konsumen
Dalam hal ini lokasi tidak terlalu penting tetapi yang harus diperhatikan adalah penyampaian jasa tetap berkualitas.
  1. Pemberi jasa dan konsumen tidak bertemu secara langsung
Berarti penyedia jasa dan konsumen berinteraksi melalui sarana tertentu seperti telepon, komputer, ataupun surat, dalam hal ini lokasi menjadi sangat tidak penting selama komunikasi antar kedua belah pihak dapat terlaksana.
Menurut (Tjiptono, 2006) pemilihan lokasi memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap beberapa faktor berikut :
  1. Akses yaitu kemudahan untuk menjangkau.
  2. Visiabilitas yaitu kemudahan untuk dilihat.
  3. Lalu lintas ada 2 hal yang diperhatikan :
  4. Banyaknya orang yang lalu lalang bisa memberikan peluang yang besar erjadinya impuls buying.
  5. Kepadatan dan kemacetan bisa menjadi hambatan.
    1. Tempat parkir yang luas dan aman.
    2. Ekspansi yaitu tersedia tempat yang luas untuk perluasan di kemudian hari.
    3. Lingkungan yaitu daerah sekitar ang mendukung jasa yang ditawarkan.
    4. Peraingan yaitu lokasi dengan pesaing sejenis.
    5. Peraturan pemerintah.
2.1.3 Pelayanan
  1. Pengertian Pelayanan
Secara umum pelayanan menurut sugiarto diartiakan sebagai suatu tindakana seseorang terhadap orang lain melalui penyajian-penyajian produk jasa sesuai dengan ukuran yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan orang yang sedang dilayani. Adapun menurut kamsir, pelayanan dapat didefinisikan sebagai tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi (kumpulan orang) untuk memberikan kepuasaan kepada pelanggan atau nasabah, tindakan tersebut dapat dilakukan melalui cara langsung perhadapan dengan pelanggan dan melayani mereka berupa tindakan yang dilakukan guna memenuhi keinginan akan pelanggan akan suatu produk atau jasa yang mereka butuhkan.
Dalam perusahaan jasa, petugas atau karyawan yang sengaja dibentuk melayani disebut customer service. Sebagai seorang pelayan dalam perusahaan jasa, harus mampu mempunyai kemampuan dan etika dalam melayani pelanggan atau nasabahnya, karena dengan begitu nasabah akan merasa puas menggunakan jasa tersebut sehingga dapat menarik simpati dari masyarakat luar untuk ikut menggunakan jasa perusahaan tersebut.
Customer service merupakan sikap tindakan seorang kepada nasabah, melalui pelayanan yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuha nasabah. Perbedaan utama antara perusahaan penghasil barang dengan perusahaan penghasil jasa adalah pada pemasarannya, dimana lebih dituntut untuk memberikan kualitas yang optimal dari costumer service. Nasabah dapat melakukan penilaian yang subjektif terhadap suatu jasa karena merasakan standar kualitas pelayanan yang diberikan berpengaruh pada kepuasan yang hendak diraih.
Bagi perusahaan jasa tertentu cukup sulit untuk mendapatkan standar pelayanan yang sama dimata nasabah. Hal tersebut menuntut kecermatan dalam pengelolaan SDM yang dimiliki agar kinerja optimum dan memuaskan nasabah. Ditengah kondisi persaingan disektor jasa yang semakin meningkat, perusahaan hendaknya terus meningkatkan customer service.
Customer service meliputi berbagai aktifitas diseluruh area bisnis yang berusaha mengkombinasikan antara penjualan jasa untuk memenuhi kepuasan nasabah mulai dari pemasaran, pemprosesan hingga pemberian hasil jasa melalui komunikasi untuk mempererat kerjasama dengan nasabah.
Menurut Plilip Kotler dalam buku Metode Riset Perilaku Konsumen, karya Husein Umar, jasa atau pelayanan merupakan setiap tindakan atau perbuatan yag dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepad pihak lain, yan pada dasarnya bersifat intangibel (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu produk jasa bisa berhubungan dengan produk fisik maupun tidak. Produk yang berupa jasa berbeda dengan produk yang berwujud barang, baik dari segi karakteristik maupun sifatnya.
  1. Dasar-dasar Pelayanan Nasabah
Petugas sebuah lembaga dituntut untuk memberikan pelayanan yang prima kepada nasabahnya. Agar pelayanan yang diberikan dapat memuaskan nasabah, maka petugas harus memiliki dasar-dasar pelayanan yang kokoh. Pelayanan yang diberikan akan berkualitas jika setiap petugas telah dibekali dasar-dasar pelayanan. Berikut ini dijelaskan dasar-dasar pelayanan yang harus dipahami dan dimengerti antara lain :
Memusatkan perhatian kepada pelanggan
  1. Memusatkan perhatian kepada pelanggan
Cara yang dapat ditempuh antara lain :
a)      Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dibicarakan pelanggan dan jangan sekali-kali memotong pembicaraannya.
b)      Memperhatikan sikap tubuh anda, bertindak secara tenang dan rileks.
c)      Menatap mata pelanggan pada saat berbica dan tersenyum, sehingga tatapan mata anda menjadi teduh dan menyejukkan hati orang yang memandang.
d)     Memperhatikan ekspresi wajah anda dan selalu tampilkan senyum ada, dst.
  1. Memberikan pelayanan yang efisien.
Cara yang dapat dilaksanakan, antara lain :
a)      Melayani  pelanggan berikutnya segera selesai dengan yang satu.
b)      Menggunakan waktu seakurat mungkin.
c)      Berbicara seperlunya dengan pelanggan.
d)     Merencanakan apa yang berikutnya akan dilakukan.
e)      Menindaklanjuti pelayanan sampai tuntas, dst.
  1. Membina Hubungan Baik dengan Pelanggan.
Cara yang dapat dilakukan :
a)      Mendengar apa yang disampaikan oleh pelanggan tanpa memotong pembicaraannya.
b)      Menunjukkan simpati dan berbicara dengan penuh perasaan untuk menunjukkan bahwa anda mengerti dan memahami perasaan pelanggan.
c)      Memberikan pelanggan menaggapi, dan berusaha menyelesaikan masalah.
2.1.4 Minat Mahasiswa Untuk Menabung
Menabung adalah menyimpan uang atau sebagian harta yang kita miliki disuatu yang di namakan bank atau koperasi. Menabung juga bisa di artikan sebagai harta yang berupa uang yang telah tersimpan dan dapat diambil sewaktu-waktu. Menabung juga banyak jenisnya seperti deposito jangka panjang dan jangka pendek, investasi dan lain-lain. Manfaat menabung tersebut agar kita bisa menghemat uang untuk kebutuhan yang mendadak dan untuk kebutuhan masa depan agar perputaran uang bisa terus terjadi di Indonesia.
2.2 Kerangka Pemikiran

Gambar 2,1 : Metode Penelitian

Keterangan :
Semakin lengkap Fasilitas (X1) yang disediakan oleh BMT Surya Sekawan akan berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung (Y) di BMT Surya Sekawan Kalibeber. Semakin strategis lokasi (X2) BMT Surya Sekawan akan berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung (Y) di BMT Surya Sekawan Kalibeber. Semakin baik pelayanan (X3) yang diberikan BMT Surya Sekawan akan berpengaruh positif terhadap kepuasan mahasiswa untuk menabung (Y) di BMT Surya Sekawan Kalibeber. Dari semua variabel (X) akan berpengaruh positif apabila semua terpenuhi dan disediakan oleh BMT Surya Sekawan terhadap minat mahasiswa untuk menabung (Y) di BMT Surya Sekawan Kalibeber.
2.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis pada dasarnya merupakan proposisi atau anggapan yang mungkin benar dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan atau pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut. Dalam hal ini hipotesis diperlukan untuk membuat suatu dugaan pada objek penelitian yang akan diteliti lebih lanjut kebenarannya. ( j. Suprapto, 1994)
H1 :Fasilitas berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
H2 : Lokasi berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
H3 : Pelayanan berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
H4 : Fasilitas, lokasi dan pelayanan terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian survey yaitu penelitian yang dilakukan dalam populasi besar maupun kecil.
3.2  Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di BMT Surya Sekawan Kalibeber Wonosobo, beralamat Jl. Raya Kalibeber Km. 03 Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo.
3.3  Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo yang menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber.
3.4  Variabel Penelitian
Variable yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 4 (empat) variabel yang terdiri dari tiga variabel bebas (independent) dan satu variabel terikat (dependent).
  1. Variabel Bebas
    1. Fasilitas (X1)
    2. Lokasi (X2)
    3. Pelayanan (X3)
    4. Variabel terikat dalam penelitian ini minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber merupakan variabel tetap (Y).
3.5  Sumber dan Jenis Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam membahas masalah yang dikemukakan, data yang digunakan yaitu :
1)      Data Primer
Yaitu data yang diperoleh dari sumberny, diamati dan dicatat behubungan langsung dengan obyek penelitian ini. Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan kuesioner sebagai alat untuk memperoleh data primer.
2)      Data Sekunder
Yaitu data yang diperoleh dari sumber-sumber lain yaitu buku-buku atau literatur-literatur serta yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.
3.6  Populasi dan Sampel
     Populasi adalah sekelompok obyek, orang atau keadaan yang paling tidak memiliki satu karateristik umum yang sama (Furqon, 1997). Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo yang menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber berjumlah + 100 orang.
Tahap selanjutnya adalah menentukan sempel. Dalam hal ini, tekhnik pengambilan sampel yang di gunakan adalah sample random sampling atau sampel acak sederhana. Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel sederhana yang diambil demikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel (Singarimbun dan Effendi, 1989).
  1. Sampel yang diambil untuk diteliti sebanyak 75 sampel dengan responden seluruh mahasiswa mahasiswi Unsiq yang menabung di BMT Surya Sekawan Kalibeber. Penentuan jumlah sampel
Adapun rumus pemilihan sampel tersebut adalah:  
                        n= 1/4 [Z/E]2
Dimana:
n  =  besarnya sampel
Z   =   nilai Z pada
α    =   tarif signifikasi
E = tingkat kesalahan pengambilan sampel maksimum yang diinginkan peneliti.
Dalam penelitian ini, tingkat signifikasi yang digunakan adalah α = 5% dari 100%, sehingga dapat  dikatakan bahwa 95% hasil dari pengmbilan sampel adalah benar dan hasil yag signifikan adalah sama. Kemudian kesalahan maksimum yang dialami dalam penelitian ini 10% atau E= 0,1 dimana hal ini dapat diartikan dengan adanya E sebesar 10% merupakan kasalahan maksimum yang mungkin dialami oleh peneliti dalam penelitian ini. Berdasarkan rumus tersebut maka jumlah sampel dapat dihitung sebagai berikut:
n =1/4 [Z/E]2
n =1/4 [1,96/0,1]2
n = 0,25 * 384,16
n = 96,04  ~ 96
Berdasarkan perhitungan diatas kami menambahkan sampel sebanyak 4 responden sehingga sampel yang akan diteliti ditetapkan sebanyak 100 responden, tetapi dari sejumlah responden di atas yang kembali hanya 75 responden. Sehingga kami menyimpulkan menggunakan 75 responden, hal ini dianggap sudah mewakili populasi yang akan diteliti.

3.7  Metode Pengumpulan Data dan Metode Analisis
  1. A.  Metode Pengumpulan Data
Untuk menjawab masalah dan menjawab hipotesis yang diajukan dalam penelitian, di perlukan data yang valid. Ada dua data yang digunakan dalam penelitian yakni :
1)      Kuesioner dan angket
Adalah pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan kepada responden untuk diisi, kemudian jawaban yang diisi oleh responden tersebut diberi skor dengan menggunakan skala likert dengan penilaian 5,4,3,2, dan 1.
Jawaban
Skor
 A
5
B
4
C
3
D
2
E
1
Jawaban
Skor
A
4
 B
3
C
2
D
1
Jawaban
Skor
A
2
B
1
Keterangan :
Dari metode penilaian yang kami buat seperti gambar di atas kami membuat skala likert dengan tiga (3) macam penilaian.
2)      Observasi
Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian.
B.     Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1)      Analisis kualitatif
Analisis kualitatif merupakan interprestasi dari data yang didapat dalam penelitian serta hasil pengolahan data yang dilakukan.
2)      Analisis kuantitatif
Yaitu analisis data yang menggunakan angka-angka yang telah diproses melalui pengolahan dan perhitungan dari hasil mengumpulkan data kuesioner.
Analisis ini melalui kegiatan :
  1. Tabulasi
Yaitu proses perhitungan frekuensi dan penyajian data dalam tabel-tabel untuk analisis lebih lanjut.
  1. Skala pengukuranYaitu dengan menentukan skor dimana memberikan penelitian atas jawaban responden.
3.8 Tehnik analisis data
3.8.1 uji kualiditas data
Kualitas data yang dihasilkan dari pegunaan instrumen penelitian data dievaluasi melalui uji reliabilitas dan uji validitas.uji tersebut masing-masing untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrumen kuesioner ( huck dan cormier, 1996 ).
  • Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk menggukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengugkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas yang digunakan adalah dengan menghitung kolerasi antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan masing-masing skor setiap konstruknya (Ghozali, 2006).
  • Uji Reliabilitas
Suatu koesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang adalah konsisten dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas ini menggunakan konsistensi internal yaitu teknik cronbach alpha (α). Apabila cronbach alpha dari hasil pengujian >0,600 maka dapat dikatakan bahwa variabel ini reliabel.
3.8.2 Uji Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan suti ukuran yang menunjukkan arah dan kekuatan ( kuat lemahnya) hubungan antara variabel bebas atau variabel independent (X) dengan variabel terkait atau variabel dependent (Y) arah dan kekuatan ( kuat lemahnya) hubungan antara variabel bebas atau variabel independent (X) dengan variabel terkait atau variabel dependent (Y) baik secara persial maupun simultan. Dalam penelitian ini hubungan antara fasilitas (X1), lokasi (X2) dan pelayanan (X3) baik secara persial maupun secara simultan terhadap mahasiswa menabung (Y) di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
3.8.3 Uji Koefisien Determinasi
Kofisien determinasi adalah suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana variabel terkait (Y) dapat dipengaruhi oleh variabel bebas (X). Jika besarnya nilai pada variabel (X) berubah maka akan menyebabkan pada besarnya nilai pada variabel (Y), artinya naik turun X akan membuat nilai Y juga naik turun (bervariasi). Namun nilai Y bervariasi tidak semata-mata disebabkan oleh faktor X saja, karena masih banyak faktor lain yang menyebabkan.
Sehingga dalam penelitian ini, variabel terkait (Y) yakni mahasiswa menabung dapat dipengaruhi oleh variabel bebas (X) yakni fasilitas, lokasi dan pelayanan. Jika fasilitas, lokasi, dan pelayanan semakin baik maka mahasiswa menabung yang dibebankan juga akan naik. Namun apabila fasilitas, lokasi dan pelayanan berkurang maka mahasiswa menabung dibebankan akan turun.
3.8.4 Uji Persamaan Garis Regresi
Persamaan garis regresi adalah suatu persamaan garis yang dibuat berdasarkan rumus matematik yang menunjukkan hubungan sebab akibat antara variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terkait (Y).
Variabel X merupakan “variabel sebab” atau variabel independent.
Variabel Y merupakan “variabel akibat” atau variabel dependent.
Dalam penelitian ini, untuk mendapatkan persamaan garis regresi tersebut, dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
Y’ = a + b1X1+ b2X2 +b3X3 + ERROR

                Dimana :      Y’        = persamaan garis regresi
a          = konstanta
b1            = lereng garis / slope pada variabel fasilitas
b2         = lereng garis / slope pada variabel kegiatan lokasi
b3         = lereng garis / slope pada variabel pelayanan
X1        = variabel fasilitas
X2        = variabel lokasi
X3        = variabel pelayanan
Sedangkan untuk menghitung koefisien induk a, b1, b2, dan b3 dapat dilakukan dengan melakukan regression liniea pada SPSS 16 yakni uji Coefficients Model Unstandardized Coefficient (B).
3.8.5 Uji Hipotesis
Untuk membuktikan kebutuhan hipotesis yang menyatakan :
H1       :Fasilitas berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
H2       : Lokasi berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
H3       : Pelayanan berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan  Kalibeber.
H4       : Fasilitas, lokasi dan pelayanan terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung di BMT Surya Sekawan

Dapat dilihat dari tingkat signifikasi yaitu :
Ha diterima, jika nilai signifikan variabel < α = 0,05.
Ha ditolak, jika nilai signifikan variabel > α = 0,05.
Apabila probabilitasnya < 0,05 maka Ha diterima atau koefisien regresi diterima, artinya terdapat pengaruh positif fasilitas, lokasi dan pelayanan terhadap mahasiswa menabung yang dibebankan di BMT Surya Sekawan Kalibeber baik secara parsial maupun simultan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Kualitas Data
Sebelum dilakukan pengolahan data, data yang diperoleh melalui koesioner perlu untuk diuji kebenaran dan kehandalahannya. Pengujian dilakukan dengan uji validitas dan reabilitas.
4.1.1 Uji Validitas
Uji validitas dimaksudkan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu koesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut ( Ghozali, 2007 ). Uji validitas yang digunakan adalah dengan menghitung korelasi bivariate antara masing-masing skor indikator dengan total konstruk. Suatu indikator dikatakan valid apabila korelasi antara masing-masing indikator menunjukkan hasil yang signifikan. Hasil uji validitas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.1
Hasil Uji Validitas
Variabel
Kisaran korelasi
Sig.
Keterangan
Minat mahasiswa untuk menabung
0,325** – 0,818**
0,003
VALID
Fasilitas
0,521** – 0,772**
0,000
VALID
Lokasi
0,558** – 0,693**
0,000
VALID
Pelayanan
0,378** – 0,809**
0,001
VALID
Sumber : Lampiran 3 – 6 ,2012
Variabel minat mahasiswa untuk menabung mempunyai kisaran korelasi 0,325 sampai 0,818 dan signifikan pada tingkat 0,003. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang mahasiswa menabung yang mengukur variabel mahasiswa menabung dapat dinyatakan valid. Variabel fasilitas mempunyai kisaran korelasi 0,521 sampai 0,772 dan signifikan pada tingkat 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang fasilitas yang mengukur variabel fasilitas dapat dinyatakan valid. Variabel lokasi mempunyai kisaran korelasi 0,558 sampai 0,692 dan signifikan pada tingkat 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang lokasi yang mengukur variabel lokasi dapat dinyatakan valid. Variabel pelayanan mempunyai kisaran korelasi 0,378 sampai 0,809 dan signifikan pada tingkat 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang pelayanan yang mengukur variabel pelayanan dapat dinyatakan valid.
Jadi, secara keseluruhan uji validitas dalam penelitian ini telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Semua item pertanyaan pada setiap variabel yang di uji baik dari variabel dependent maupun variabel independent semuanya menunjukkan hasil yang valid.
4.1.2 Uji Reabilitas
Uji reabilitas dimaksudkan untuk mengukur suatu koesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu koesioner dikatakan reliabel apabila jawaban responden dari pertanyaan pada setiap variabel selalu konsisten dari waktu ke waktu. Formul statistik yang digunakan untuk mengukur reabilitas adalah uji statistik cronbach alpha (α). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha (α) > 0,600 ( Nunnally, 1967 ) yang dikutip Ghozali, Imam ( 2007 ). Hasil uji reliabilitas ini di tunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Hasil Uji Reabilitas
Variabel
Cronbach Alpha (α)
Keterangan
Minat mahasiswa untuk menabung
0,719
Reliabel
Fasilitas
0,735
Reliabel
Lokasi
0,699
Reliabel
Pelayanan
0,855
Reliabel
Sumber : Lampiran 7- 10, 2012
Variabel minat mahasiswa untuk menabung memiliki nilai Cronbach Alpha 0,719. Nilai tersebut di atas nilai Cronbach Alpha 0,600 sebagai batas atas, maka semua pertanyaan tentang mahasiswa menabung adalah reliabel. Variabel fasilitas memiliki nilai Cronbach Alpha 0,735. Nilai tersebut di atas nilai Cronbach Alpha 0,600 sebagai batas atas, maka semua pertanyaan tentang fasilitas adalah reliabel. Variabel lokasi memiliki nilai Cronbach Alpha 0,699. Nilai tersebut di atas nilai Cronbach Alpha 0,600 sebagai batas atas, maka semua pertanyaan tentang lokasi adalah reliabel. Variabel pelayanan memiliki nilai Cronbach Alpha 0,855. Nilai tersebut di atas nilai Cronbach Alpha 0,600 sebagai batas atas, maka semua pertanyaan tentang pelayanan adalah reliabel.
Jadi, secara keseluruhan uji reliabilitas yang dilakukan dalam penelitian ini telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini terlihat dari nilai cronbach alpha yang lebih besar dari nilai batas atas cronbach alpha 0,600. Sehinggal seluruh pertanyaan yang berkaitan dengan variabel mahasiswa menabung, fasilitas, lokasi dan pelayanan adalah reliabel.
4.2 Uji Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan suatu ukuran yang menunjukkan arah dan kekuatan (kuat lemahnya) hubungan antara variabel bebas atau variabel independent (X) dengan variabel terikat atau variabel dependent (Y) yaitu hubungan antara fasilitas (X1), lokasi (X2) dan pelayanan (X3) baik secara persial maupun simultan terhadap mahasiswa menabung yang dibebankan di Universitas Sains Al-Qur’an di Wonosobo. Hasil uji koefisien korelasi ini dapat dilihat pada tabel 4.3 ( pengujian secara persial ) dan tabel 4.4 (pengujian secara simultan ).
Tabel 4.3
Hasil Uji Koefisien Korelasi ( Secara Parsial )
Variabel
Mahasiswa menabung
Fasilitas
Lokasi
Pelayanan
Minta mahasiswa untuk menabung
1
-0,020
-0,019
0,348
Fasilitas
-0,020
1
0,397
0,322
Lokasi
-0,019
0,397
1
0,357
Pelayanan
0,348
0,322
0,357
1
Sumber : Lampiran 11, 2012
Menurut tabel 4.3, tidak ada korelasi antara variabel fasilitas (X1) dengan minat mahasiswa untuk menabung (Y) menunjukkan hasil sebesar -0,020. Tidak ada Korelasi antara variabel lokasi (X2) dengan minat mahasiswa untuk menabung (Y) menunjukkan hasil sebesar -0,019. Korelasi antara variabel pelayanan (X3) dengan mahasiswa menabung (Y) menunjukkan hasil sebesar 0,348 artinya terdapat hubungan yang  dan positif variabel pelayanan (X3) terhadap variabel mahasiswa menabung (Y).
Tabel 4.4
Model Summary
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1
0,392
0,154
0,118
2.43657
Sumber : Lampiran 11, 2012
Koefisien korelasi secara simultan dapat dilihat pada tabel 4.4. nilai R pada tabel 4.4 menunjukkan besarnya koefisien korelasi secara simulasi yakni sebesar 0,392 yang artinya terhadap hubungan yang lemah antara variabel fasilitas, lokasi dan pelayanan (variabel X) terhadap variabel minat mahasiswa untuk menabung (variabel Y).
Jadi, secara keseluruhan uji koefisien korelasi yang dilakukan dalam penelitian ini telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Hali ini dapat dilihat dari adanya hubungan yang kuat dan positif variabel X terhadap variabel Y baik secara parsial maupun simultan.
4.3. Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi adalah suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana variabel terkait (Y) dapat dipengaruhi oleh variabel bebas (X). Jika besarnya nilai pada variabel (X) berubah, maka akan menyebabkan perubahan pula pada besarnya nilaipada variabel (Y), artinya naikturunnya vriabel X akan membuat nilai Y juga naik turun (bervariasi). Namun nilai Y bervariasi tidak semata-mata disebabkan nilai X saja, karena masih banyak faktor lain yang menyebabkannya.
Sehingga dalam penelitian ini, variabel terikat (Y) yakni mahasiswa menabung dapat dipengaruhi oleh variabel bebas (X) yakni fasilitas, lokasi dan pelayanan. Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.4.
Di dalam tabel 4.4 terdapat nilai R Square (R2) sebesar 0,118 artinya variabel fasilitas, lokasi, dan pelayanan dapat menerangkan valiabilitas sebesar 11,8%, sedangkan sisanya 88,2% disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti faktor penghasilan orang tua, kemajuan ilmu, pengetahuan dan lain-lain.
4.4 Uji Persamaan Garis Regresi
Persamaan garis regresi adalah suatu persamaan garis yang dibuat berdasarkan rumus matematik yang menunjukkan hubungan sebab akibat antara dua variabel yaitu variabel (X) dan variabel terikat (Y).
Variabel X merupakan “variabel sebab” atau variabel independent.
Variabel Y merupakan “variabel akibat” atau variabel dependent.
Dalam penelitian ini, untuk mendapatkan persamaan garis regresi tersebut, dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
Y’ = a + b1X1+ b2X2 +b3X3 + ERROR

               
                Dimana :      Y’        = persamaan garis regresi
a          = konstanta
b1            = lereng garis / slope pada variabel fasilitas
b2         = lereng garis / slope pada variabel kegiatan lokasi
b3         = lereng garis / slope pada variabel pelayanan
X1        = variabel fasilitas
X2        = variabel lokasi
X3        = variabel pelayanan
Sedangkan untuk menghitung koefisien induk a, b1, b2, dan b3 dapat dilakukan dengan melakukan regression liniea pada SPSS 16 yakni uji Coefficients Model Unstandardized Coefficient (B) yang dapat dilihat pada tabel 4.5
Tabel 4.5
Coefficients

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
1 (Constant)
12.773
2.822

4.526
0,000
fasilitas
-0,257
0,293
-0,107
-0,879
0,383
Lokasi
-0,299
0,285
-0,130
-1.050
0,297
pelayanan
0,403
0,113
0,429
3.585
0,001
Sumber : Lampiran 11, 2012



Berdasarkan tabel 5, persamaan garis regresinya adalah
Y = 12.773-0,257 X1-0,299X2+0,403X3+2,43657
Hasil perhitungan yang telah dilakukan menghasilkan suatu persamaan menunjukkan besarnya nilai X merupakn regresi yang diestimasikan sebagai berikut :
  • Nilai konstanta (a) sebesar 12,773 artinya apabila fasilitas (X1), lokasi (X2), pelayanan (X3) dalam keadaan konstanta atau 0, maka minat mahasiswa untuk  menabung (Y) nilainya sebesar 12,773.
  • b1 ( koefisien regresi X1) sebesar -0,257 artinya apabila fasilitas naik sebesar 1% maka fasilitas tidak mempengaruhi minat mahasiswa untuk menabung turun sebesar 0,257%.
  • b2 ( koefisien regresi X2) sebesar -0,299 artinya apabila lokasi naik sebesar 1% maka lokasi tidak mempengaruhi minat mahasiswa untuk menabung turun sebesar 0,299%.
  • b3 ( koefisien regresiX3) sebesar 0,403 artinya apabila pelayanan naik sebesar 1% maka minat mahasiswa untuk menabung  naik sebesar 40,3%.
Jadi secara keseluruhan, persamaan garis regresi tersebut mengandung arti bahwa fasilitas dan lokasi tidak berpengaruh pada mahasiswa menabung. Pelayan berpengaruhi positif terhadap mahasiswa menabung.
4.5. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan persamaan uji berganda uji persial dan uji simultan dengan bantuan perangkat lunak program SPSS versi 16. Uji persial digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel fasilitas terhadap minat mahasiswa untuk menabung (H1), lokasi terhadap minat mahasiswa untuk  menabung (H2), pelayanan terhadap minat mahasiswa untuk menabung (H3). Sementara uji simultan digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh secara bersama-sama antara variabel fasilitas, lokasi, pelayanan terhadap minat mahasiswa untuk menabung (H4).
4.5.1 Pengaruh Fasilitas Terhadap Minat Mahasiswa Untuk Menabung
Pengaruh fasilitas terhadap minat mahasiswa untuk menabung (H1) diuji dengan regresi berganda uji persial. Hasil pengujian ini dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4.6
Hasil Pengujian
Pengaruh fasilitas terhadapa minat mahasiswa untuk menabung
Variabel
Coeff
Sig.
Hasil
Fasilitas
-0,257
0,383
Tidak signifikan
Sumber : Lampiran 11, 2012
Berdasarkan tabel 4.6, dapat dilihat pengaruh fasilitas terhadap minat mahasiswa untuk menabung yang memiliki coeffisien sebesar -0,257 dan signifikan pada 0,383. Hal ini berarti bahwa H1 yang menyatakan bahwa fasilitas berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung ditolak karena nilai signifikan variabel fasilitas seperti yang tertera pada tabel 4.6 yakni sig. pada 0,383 > α = 0,05. Artinya fasilitas tidak berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung.
4.5.2. Pengaruh Lokasi Terhadap Minat Mahasiswa Untuk Menabung
Pengaruh lokasi terhadap minat mahasiswa untuk menabung (H2) diuji regresi linier berganda uji persial. Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7
Hasil pengujian
Pengaruh lokasi terhadap minat mahasiswa untuk menabung
Variabel
Coeff.
Sig.
Hasil
Lokasi
-0,299
0,297
Tidak signifikan
Sumber : Lampiran 11, 2012
Berdasarkan tabel 4.7, dapat dilihat pengaruh lokasi terhadap minat mahasiswa untuk menabung yang memiliki coeffisien sebesar -0,299 dan signifikan pada 0,297. Hal ini berarti bahwa H2 Yang menyatakan bahwa lokasi berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung ditolak karena nilai signifikan variabel lokasi seperti yang tertera pada tabel 4.7 yakni sig. pada 0,297 > α = 0,05. Artinya lokasi tidak berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung.
4.5.3 Pengaruh Pelayanan Terhadap Minat Mahasiswa Untuk Menabung
Pengaruh pelayanan terhadap minat mahasiswa untuk menabung (H3) diuji dengan regresi berganda uji persial. Hasil pengujian ini dapat di lihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8
Hasil Pengujian
Pengaruh pelayanan terhadap minat mahasiswa untuk menabung
Variabel
Coeff
Sig.
Hasil
Pelayanan
0,403
0,001
Signifikan
Sumber : Lampiran 11, 2012
Berdasarkan tabel 4.8, dapat dilihat pengaruh pelayanan terhadap minat mahasiswa untuk menabung yang memiliki coeffisien sebesar 0,403 dan signifikan pada 0,001. Hal ini berarti bahwa H3 Yang menyatakan bahwa pelayanan berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung diterima karena nilai signifikan variabel pelayanan seperti yang tertera pada tabel 4.8 yakni sig. pada 0,001 < α = 0,05. Artinya pelayanan berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung.
4.5.4 Pengujian Pengaruh Fasilitas, Pelayanan dan Lokasi terhadap minat mahasiswa untuk menabung
Pengaruh fasilitas, pelayanan dan lokasi terhadap mahasiswa menabung (H4) di uji dengan regresi berganda uji slimutan. Hasil pengujian ini dapat dilihat pad tabel 4.9.
Tabel 4.9
Hasil Pengujian
Pengaruh fasilitas, lokasi dan pelayanan terhadap minat mahasiswa untuk menabung
Model
Sum of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
1 Regression
76.562
3
25.521
4.299
.008a

Residual
421.518
71
5.937



Total
498.080
74



Sember : Lampiran 11, 2012
Berdasarkan tabel 4.9, dapat dilihat pengaruh fasilitas, pelayanan dan lokasi terhadap minat mahasiswa untuk menabung yang memiliki signifikasi pada 0,008, hal ini berarti bahwa H4 yang menyatakan bahwa fasilitas, pelayanan dan lokasi berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung diterima seperti yang tertera pada tabel 4.9 yakni sig. pada 0,008 <  α = 0,05. Artinya ketiga variabel bebas yakni fasilitas, pelayanan dan lokasi berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa untuk menabung.
4.6 Pembahasan
Berdasarkan pengujian data empiris menggunakan SPSS 16 pada tabel 4.10 akan ditampilkan ringkasan hasil akhir dari pengujian hipotesis yang menjelaskan bahwa pengujian hipotesis (H1, H2, H3, H4 ) diterima ataupun ditolak.
Tabel 4.10
Ringkasan hasil pengujian hipotesis
No
Hipotesis
Hasil akhir
H1
Fasilitas berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung
Ditolak
H2
Lokasi berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung
Ditolak
H3
Pelayanan berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung
Diterima
H4
Fasilitas, lokasi dan pelayanan berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung
Diterima
Sumber : Lampiran 11, 2012
4.6.1 Pengaruh Fasilitas Terhadap Mahasiswa Menabung
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa fasilitas tidak berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung, ini menunjukkan bahwa fasilitas tidak memberikan konstribusi yang cukup terhadap mahasiswa menabung yang dibebaninya. Artinya, semakin banyak fasilitas yang disediakan di BMT Surya Sekawan tidak akan berpengaruh pada mahasiswa meanabung. Begitupun sebaliknya, semakin sedikit fasilitas yang tersedia tidak pula berpengaruh terhadap mahasiswa menabung yang dibebankan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 yang menyatakan fasilitas berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung adalah ditolak.
4.6.2 Pengaruh Lokasi Terhadap Mahasiswa Menabung
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa lokasi tidak berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung, ini menunjukkan bahwa lokasi tidak memberikan konstribusi yang cukup terhadap mahasiswa menabung yang dibebaninya. Artinya, semakin luas area lokasi yang disediakan di BMT Surya Sekawan tidak akan berpengaruh pada mahasiswa meanabung. Begitupun sebaliknya, semakin sempit area lokasi yang tersedia tidak cukup memadai berpengaruh terhadap mahasiswa menabung yang dibebankan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa H2 yang menyatakan lokasi berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung adalah ditolak.
4.6.3 Pengaruh Pelayanan Terhadap Mahasiswa Menabung
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa pelayanan tidak berpengaruhi positif terhadap mahasiswa menabung, ini menunjukkan bahwa pelayanan tidak memberikan konstribusi yang cukup terhadap mahasiswa menabung yang dibebaninya. Artinya, semakin memuaskan pelayanan yang disediakan di BMT Surya Sekawan tidak akan berpengaruh pada mahasiswa meanabung. Begitupun sebaliknya, semakin kurang pelayanan yang diberikan akan berpengaruh terhadap mahasiswa menabung yang dibebankan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 yang menyatakan pelayanan berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung adalah diterima.
4.6.4 Pengaruh Fasilitas, Lokasi dan Pelayanan Terhadap Mahasiswa Menabung
Tabel 4.10 menunjukkan bahwa fasilitas, lokasi dan pelayanan berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung, ini menunjukkan bahwa pelayanan memberikan kontribusi yang kuat terhadap mahasiswa menabung yang dibebankan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa H4 yang menyatakan fasilitas, lokasi dan pelayanan berpengaruh positif terhadap mahasiswa menabung adalah diterima. Artinya semakin tinggi tingkat fasilitas, lokasi dan pelayanan akan mempengaruhi besarnya mahasiswa menabung. Begitupun sebaliknya, semakin rendah tingkat fasilitas, lokasi dan pelayanan maka akan mempengaruhi kecilnya mahasiswa menabung yang dibebankan.
BAB V
KESIMPULAN
   Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas, lokasi dan pelayanan terhadap minat mahasiswa UNSIQ untuk menabung dalam memilih BMT Surya Sekawan Kalibeber. Data yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan melalui kuesioner terhadap mahasiswa sejumlah 75 responden yang tersebar pada seluruh fakultas di Universitas Sains Al-Qur’an.
Selain itu pengambilan data melalui kuesioner kepada nasabah yang ada pada saat itu, bisa saja jawaban yang ada tidak dipikirkan dengan seksama karena tertuju pada kesibukan pada saat kuliah atau pada saat pengisian koesioner.

DAFTAR PUSTAKA
dinaakunt.files.wordpress.com/2011/07/prop-metpen1.doc
Edar Sugiarto, sikologi pelayanan dalam industri jasa,(Jakarta :Gramedia pustaka umam,2002.) hal 27
Kasmir, Etika Custemer Service, ( Jakarta : Rajawali Prees, 2005.) hal 15
Azwar,S. 1997.Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Andi offsiet.
Hadari,Nawawi. 1983. Metode Penelitian Bidang Sosial.Yokyakarta: Gajah Mada University Press.

Minggu, 02 Desember 2012

Penerapan Pedoman Akuntansi Perbankan Di Indonesia




Sehubungan dengan dilakukannya penyempurnaan oleh Ikatan Akuntan Indonesia terhadap beberapa Standar Akuntansi Keuangan yang saat ini berlaku, maka PAPI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari PSAK yang relevan untuk industri perbankan juga perlu disesuaikan, termasuk penyesuaian terkait dengan penerbitan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan, dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, yang akan berlaku sejak 1 Januari 2010.
PAPI disusun dengan kerjasama antara Bank Indonesia, perbankan, dan Ikatan Akuntan Indonesia. Dengan PAPI diharapkan dapat terjadi peningkatan transparansi kondisi keuangan bank sehingga laporan keuangan bank menjadi semakin relevan, komprehensif, andal, dan dapat diperbandingkan. 
Pemberlakuan PAPI 2008 diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Sebagai petunjuk pelaksanaan dari PSAK maka untuk hal-hal yang tidak diatur dalam PAPI tetap mengacu kepada PSAK yang berlaku.
Untuk pendukung penjelasan saya persilahkan para pembaca mendownload di makalah akuntansi